Gardner menambah dua jenis inteligensi yaitu:
(1) inteligensi natural (natural intelligence), yaitu kemampuan mengenal flora, fauna dan mencintai alam seperti biologi dan fisika,
(2) inteligensi spiritual
Gardner menambah dua jenis inteligensi yaitu:
(1) inteligensi natural (natural intelligence), yaitu kemampuan mengenal flora, fauna dan mencintai alam seperti biologi dan fisika,
(2) inteligensi spiritual
Dalam membahas fungsi otak terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan psikometri dan pemrosesan informasi
Unit analisis dalam pendekatan psikometri adalah faktornya, unit analisis dalam pendekatan kognisi adalah komponen-komponen pemrosesan informasi. Pendekatan psikometri disebut juga teori psikometri, karena basisnya terletak pada studi mengenai perbedaan-perbedaan individu atau diferensiasi dari kemampuan-kemampuan individual yang tersembunyi. Keberadaan kemampuan yang tersembunyi tersebut hanya dapat diidentifikasi melalui teknik matematis yang disebut analisis faktor.
Penerapan teori ini dalam tes-tes inteligensi dimulai dengan sebuah matriks interkorelasi atau analisis kovarian. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sumber-sumber “laten” yaitu variasi yang tersembunyi dalam skor-skor tes yang dicapai. Pada gilirannya variasi tersembunyi ini kemudian diteorikan agar dapat memunculkan variasi-variasi yang dapat diamati dalam skor tes. Sumber-sumber laten yang dimiliki individu yang satu berbeda dari yang dimiliki individu lain, dan disebut faktor-faktor. Jadi perbedaan-perbedaan individu yang satu dengan yang lain yang muncul melalui performansi pada waktu tes-tes inteligensi dapat diubah kembali menjadi faktor-faktor. Masing-masing faktor tersebut mencerminkan kemampuan individu masing-masing.
Selanjutnya akan diuraikan tentang definisi inteligensi, terutama dari pandangan Robert J. Sternberg. Menurut Stenberg (1997 dalam Soetarlinah Sukadji, 1998) berdasarkan survei yang diadakan tahun 1921, pada umumnya inteligensi berkaitan dengan: (1) kemampuan tingkat tinggi (seperti penalaran abstrak, representasi mental, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan), (2) kemampuan belajar dan (3) adaptasi untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Dua unsur penting dalam definisi tersebut adalah “kapasitas untuk belajar dari pengalaman“ dan ”kapasitas untuk beradaptasi dengan lingkungan”. Bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi merupakan kapasitas yang menentukan dalam inteligensi terlihat jelas dalam kasus-kasus retardasi mental (Soetarlinah Sukadji, 1998). Survei tahun 1986 menyimpulkan bahwa unsur yang penting dalam definisi inteligensi menyempit dengan menekankan unsur “adaptasi”. Tetapi dalam realitasnya manusia tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan, tetapi juga memilih lingkungan, dan kadang-kadang membentuk lingkungan.
Dengan demikian definisi inteligensi mengarah pada kemampuan beradaptasi dengan tuntutan lingkungan, atau kreatif dan inovatif mengubah dan menemukan konteks baru. Selanjutnya definisi menurut saran Stenberg adalah: kemampuan mental yang dibutuhkan untuk adaptasi maupun membentuk dan memilih konteks lingkungan (Stenberg, 1997, dalam Soetarlinah Sukadji, 1998).
PENJAJAGAN KEPRIBADIAN
Ada dua jenis tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian individu:
a. Pencil-and-Paper Tests. Jenis alat ukur yang paling tepat untuk berbagai tujuan psikologis adalah Pencil-and-Paper Tests , tes dalam bentuk kuesioner atau inventory. Tes-tes jenis ini dapat disajikan dengan murah dan cepat untuk orang-orang dalam kelompok besar. Contohnya, angket-angket kepribadian, Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), The 16 Personality Factor Questionnaire (16PF).
b. Metode-metode Projektif . Metode ini dibuat berdasarkan hipotesis projektif yang dihasilkan teori kepribadian dari Freud. Ide dasarnya adalah bahwa cara orang merespon situasi yang kabur atau samar-samar seringkali merupakan proyeksi dari perasaan atau motif-motif yang mendasari. Misalnya, seorang laki-laki yang menginterpretasikan senyuman wanita sebagai ajakan seksual, dapat memproyeksikan perasaan seksualnya terhadap wanita tersebut dan mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan laki-laki tersebut.
Dengan tes projektif ini orang yang dites diminta untuk merespon stimuli yang berupa bercak tinta atau gambar. Prosedur skoring untuk tes-tes dengan metode projektif ini umumnya kurang terstruktur bila dibanding dengan Pencil-and-Paper Tests. Interpreter (orang yang bertugas menginterpretasikan) seringkali harus menyandarkan diri pada evaluasi subjektif terhadap respon-respon yang ada.
Contoh tes projektif: The Rorschach Inkblot Technique (Herman Rorschach, 1921/1942); Thematic Appercepton Test (Christina Morgan dan Henry Murray, 1938). Tes TAT ini dibuat berdasarkan teori kebutuhan yang diajukan oleh Murray, untuk mengungkap kebutuhan-kebutuhan individu.
Sumber :
Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986). Introduction to Psychology. Singapore : McGraw-Hill, Inc.
TESTING UNTUK KEMAMPUAN-KEMAMPUAN KHUSUS (BAKAT)
Dalam hal ini tidak ada batasan yang pasti mengenai tes inteligensi dengan tes bakat. Secara umum kita menggunakan tes inteligensi untuk menjajagi kapasitas intelektual yang luas, dan menggunakan tes bakat untuk mengukur kemampuan khusus yang diperlukan dalam aktivitas atau pekerjaan-pekerjaan khusus.
Scholastic Aptitudes (Bakat- Bakat Akademik)
Kita berbicara megenai tes bakat akademik jika kita mencoba mencoba meramalkan keberhasilan dalam pelatihan akademik. Di Amerika, tes yang paling terkenal untuk ini adah Scholastic Aptitude Test (SAT), yang dikenakan untuk anak-anak lulusan SMA dalam meramalkan bakat mereka untuk memasuki sekolah yang mengarah pada profesi-profesi dalam bidang kesenian, kesehatan, keperawatan, hukum, dll.
Psikolog serig menunjuk kemampuan-kemampuan yang dites dengan tes inteligensi dan tes bakat akademik sebagai kemampuan kognitif. Di luar itu masih ada tes-tes kemampuan yang lain, yang digunakan untuk menjajagi kemampuan dalam pekerjaan khusus. Misalnya, tes untuk para mekanik, operator mesin, dan pekerja-pekerja asembling, yang mengukur pengetahuan dan bakat mekanik atau kemampuan untuk memanipulasi objek. Orang yang skornya tinggi dalam tes ini akan dapat melakukan tugasnya dengan baik.
Selain tes tersebut di atas, tes psikomotor juga merupakan salah satu jenis tes bakat kerja, untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu yang memerlukan kemampuan-kemampuan psikomotorik. Tes ini meliputi tugas-tugas psikomotorik seperti ketrampilan manual, kekekaran (steadiness), kekuatan otot, kecepatan respon terhadap sinyal, dan koordinasi berbagai gerakan.
Tes bakat kerja digunakan oleh pengusaha-pengusaha untuk menyeleksi tenaga kerja dan oleh konselor bidang kerja. Mereka sering menggunakan serangkaian tes (test batteries), yaitu kombinasi tes-tes yang mengungkap berbagai bakat/kemampuan sekaligus. Contohnya, Differential Aptitude Tests (DAT).
Bahwa minat juga merupakan faktor penting untuk kesuksesan dalam kerja, para konselor sering menggunakan informasi dari tes yang dirancang untuk mengungkap minat kerja. Contohnya, the Strong-Cmpbell Vocational Interest Inventory (Cmbbell, 1981) dan the Kuder Occupational Interest Survey (Kuder, 1979).
Sumber :
Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986). Introduction to Psychology. Singapore : McGraw-Hill, Inc.
PERBEDAAN INDIVIDUAL DALAM HAL INTELIGENSI
Distribusi (penyebaran) inteligensi (seperti halnya ciri-ciri psikologis yang lain) pada populasi dapat digambarkan dengan kurve yang bentuknya seperti lonceng, yang biasanya disebut kurve normal. Sebagian besar manusia memiliki skor dengan rentang (range) menengah, dan sebagian kecil memiliki skor yang rendah atau tinggi.
Berikut ini adalah gambaran dari kondisi mental yang ekstrim, yaitu yang di bawah normal dan yang di atas normal.
Kondisi mental di bawah normal
Orang dikatakan sebagai terbelakang secara mental (mentally retarded) jika: (a) IQ di bawah 70; (b) Kemampuan untuk menyesuaikan diri tidak cukup untuk mengatasi tugas-tugas harian yang biasa.
Catatan: IQ 55 s/d 69 (lemah mental taraf ringan), masih mampu mengatasi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Sebaba-sebab lemah mental, secara umum dapat dibedakan menjadi dua: (a) sebab fisiologis (misalnya down syndrom, karena kelainan kromosom; (b) sebab lingkungan (misalnya ibu hamil terkena rubella atau sipilis sehingga cacat otak).
Penyebab lain (lingkungan, sebelum dilahirkan): sinar X, obat yang tidak tepat, tekanan-tekanan pada kepala bayi pada waktu dilahirkan, kurangnya oksigen setelah lahir, dan kekurangan gizi dari ibu.
Anak Berbakat (Mentally Gifted)
Dalam hal ini, sebagian peneliti dan pendidik berpendapat bahwa IQ di atas 120 sudah termasuk anak berbakat, sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa anak berbakat memiliki IQ di atas 140.
Di Amerika, IQ 115 s/d 120 biasanya sudah dapat mencapai kemampuan mental yang cukup untuk kuliah di universitas yang baik.
IQ tinggi mulai dapat diprediksi (sudah nampak) pada usia SD. Mereka yang cerdas dapat menjadi bintang di kelas. Tetapi anak-anak dengan IQ luar biasa, tidak dapat menyesuaikan diri, sulit dimengerti oleh teman sebaya dan gurunya, dan sering diidentifikasi sebagai anak-anak yang kurang ajar. Terman (1925) menyatakan bahwa IQ diatas 140 umumnya dapat menyesuaikan diri dengan mudah; dan Leta Hollingsworth (1942 menyatakan bahwa IQ di atas 180 sulit menyesuaikan diri, bahkan banyak yang underachiver (memiliki prestasi yang rendah, di bawah kemampuan sebenarnya), tidak bahagia, dan ada yang bunuh diri.
Sumber :
Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986). Introduction to Psychology. Singapore : McGraw-Hill, Inc.
PENGUKURAN INTELIGENSI
Setiap teori mengenai susunan dan sifat inteligensi, mempunyai implikasi perbedaan cara dalam mengestimasi/mengukur kemampuan mental tersebut. Misalnya: Teori faktor-G menunjukkan bahwa skor tunggal sudah cukup mewakili inteligensi; Teori multifaktor menunjukkan kebutuhan akan subtes-subtes yang terpisah untuk mengungkap berbagai faktor kemampuan.
Tes-tes inteligensi yang paling penting hingga saat ini adalah Tes Stanford-Binet dan tiga macam tes yang dikembangkan oleh Weschsler (WAIS - dewasa; WISC- 5 s/d 15 th; WPPSI – pra sekolah).
a. Skala Inteligensi Stanford-Binet.
Tes ini dikembangkan oleh Binet & Simon untuk mengidentifikasi anak-anak yang lemah mental di sekolah-sekolah yang ada di Perancis; kemudian dikembangkan beberapa versi ke dalam bahasa Inggris. Yang paling terkenal adalah yang dihasilkan pada tahun 1916 oleh Lewis Therman di Universitas Stnford, dikenal sebagai tes Stanford-Binet, dan menjadi model berbagai tes inteligensi. Tes ini sendiri telah mengalami revisi beberapa kali.
Binet membagi tesnya dalam tingkat-tingkat usia (Alasannya: ia mengamati bahwa murid-murid yang lemah mental rupanya berpikir seperti anak-anak yang tidak lemah mental pada usia yang lebih muda). Dengan kata lain, tes ini terdiri dari beberapa subtes. Tes yang diberikan untuk setiap kelompok umur tidaklah sama. IQ (Intelligence Quotient) diperhitungkan dengan rumus:
MA
IQ = ¾¾¾ x 100
CA
MA = mental age (umur mental)
CA = chronological age (umur kronologis)
Catatan :
• MA diperoleh dengan cara: umur basal ditambah dengan kredit tambahan yang diperoleh subjek di atas umur basalnya.
• Umur basal adalah tingkat umur di mana subjek menjawab semua tes dengan benar, tepat sebelum tingkat umur di mana pertama kali subjek mengalami kegagalan dalam satu subtes.
• Setiap subtes yang dijawab benar pada tes yang di atas umur basalnya, diberi angka kredit. Besarnya angka kredit untuk setiap umur tidaklah sama (dapat dilihat pada tabelnya).
• Tes dihentikan pada usia ceiling , yaitu level terendah di mana seluruh item di dalam satu level dijawab salah.
b. Tes Wechsler
David Wechsler mengembangkan sekumpulan tes untuk orang-orang dari berbagai kelomok usia seperti yang telah disebutkan diatas. Tes-tes tersebut adalah (a) Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), direvisi menjadi WAIS-R, 1981; (b) Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI, 1967); Wechsler Adult Intelligence Scale for Children WISC), telah direvisi menjadi WISC-R, 1974. Semuanya itu merupakan tes individual, terdiri dari bermacam-macam tugas.
Subtes-subtes dari keluarga tes Wechsler ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu verbal dan performance. Dengan demikian penentuan IQ dari tes-tes ini terdiri dari IQ verbal, IQ performance, dan IQ keseluruhan. Cara yang ditempuh untuk menentukan IQ adalah :
- Skor mentah setiap subtes diubah menjadi nilai skala (berdasarkan pedoman yang ada).
- Nilai skala setiap subtes verbal dijumlahkan, mendapatkan total nilai skala verbal; nilai skala subtes performance dijumlahkan, mendapatkan total nilai skala performance. Total dari nilai skala V dan P merupakan total nilai skala.
- Total nilai skala V, P, dan keseluruhan, masing-masing diubah menjadi IQ berdasarkan tabel yang sudah disusun sebagai standard (norma).
- Skor standard tersebut ditentukan dengan cara:
X – M
S
- Berdasarkan standard yang ada, dapat dilihat adanya klasifikasi kemampuan dari yang terendah hingga yang tertinggi, berturut-turut adalah keterbelakangan mental, perbatasan, normal bawah, rata-rata, normal atas, superior, dan sangat superior.
ASAL USUL INTELIGENSI
Tidak mudah untuk mendefinisikan inteligensi. Dapat dikatakan bahwa setiap ahli memiliki pengertian yang berbeda. Namun demikian, dari pemahaman-pemahaman yang berkembang terdapat dua kelompok teoris yang berbeda sudut pandang. Salah satu kelompok, terdiri dari teoris-teoris yang telah mempelajari susunan/organisasi kemampuan mental, minat utamanya adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang menyusun inteligensi. Kelompok yang lain, ialah teoris yang memusatkan pandangannya pada proses-proses dalam aktivitas intelektual (proses-proses yang terlibat dalam pemecahan masalah, perencanaan, mengingat sesuatu). Berikut ini kita bahas dua kelompok teori tersebut.
Teori-teori Faktor
Apakah intelligensi merupakan karakteristik tunggal atau merupakan kumpulan karakteristik ? Ini merupakan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Perkembangan teori inteligensi dapat digambarkan seperti seorang pelaut yang memperhatikan monster laut “Loch Ness”.
(a) berbagai bentuk yang nampak di atas permukaan, selanjutnya mungkin disimpulkan bahwa yang terlihat adalah bagian-bagian dari satu kesatuan , yakni sebentuk naga
(b); hal ini analog dengan pandangan bahwa inteligensi adalah kemampuan umum tunggal. Selanjutnya mungkin dismpulkan bahwa di balik permukaan terdapat beberapa naga
(c); hal ini analog dengan pandangan bahwa inteligensi terdiri dari beberapa kemampuan yang terpisah. Atau dapat juga mereka menyimpulkan bahwa setiap bagian yang terlihat adalah bagian dari makhluk yang berbeda
(d); yang analog dengan pandangan bahwa setiap tugas intelektual melibatkan kemampuan yang berbeda.
Untuk memastikan apakah intelligensi merupakan karakteristik tunggal atau merupakan kumpulan karakteristik, banyak ahli yang menggunakan teknik statistik yang disebut analisis faktor (factor analysis). Teknik ini merupakan cara untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok kemampuan atau perilaku atau sifat-sifat yang saling berhubungan satu dengan yang lain.
Meskipun mungkin semua teoris menggunakan analisis faktor untuk mempelajari inteligensi, namun hasil mereka berbeda satu sama lain. Berikut adalah beberapa teori yang sama-sama diperoleh dari analisis faktor:
a. Teori Faktor-G. Charles Spearman (1927), psikolog Inggris yang merintis teori faktor, yang mengusulkan bahwa inteligensi terdiri dari satu faktor kemampuan umum (general-G). Spearman mencatat bahwa sejumlah pengukuran tugas-tugas kognitif dan intelektual cenderung saling berkorelasi antara yang satu dengan yang lain; artinya orang yang skornya tinggi pada satu tugas cenderung tinggi pula skornya pada tugas yang lain. Dengan menggunakan analisis faktor versi awal, Spearman menemukan bahwa faktor umum (G) yang ia yakini terbagi menjadi beberapa macam tes. Untuk itu Spearman memberi alasan bahwa tiap-tiap tugas intelektual individu terdiri atas inteligensi umum (general-G), dan beberapa kemampuan khusus yang lain (specific-S). Misalnya, tes aritmatika dapat terdiri dari G dan kemampuan matematika khusus. Pandangan Spearman ini tercermin dalam tes inteligensi yang menghasilkan skor tunggal, yakni IQ.
b. Teori-teori Multifaktor (multifactor theories). Berbeda dengan Spearman, beberapa teoris menyimpulkan bahwa inteligensi terdiri dari beberap komponen. Dalam satu hal mereka sependapat dengan Spearman, bahwa skor dalam tugas-tugas kognitif dan intelektual cenderung saling berkorelasi antara yang satu dengan yang lain, namun lebih dari itu mereka melihat bahwa kelompok tes tertentu berkorelasi lebih tinggi satu sama lain dan berkorelasi lebih rendah dengan kelompok tes yang lain. Misalnya, kelompok tes memori cenderung lebih tinggi korelasinya satu sama lain dan lebih rendah korelasinya dengan kelompok tes yang lain; dan kelompok tes yang melibatkan penghitungan angka-angka lebih tinggi korelasinya satu sama lain dan lebih rendah korelasinya dengan kelompok tes yang bukan numerik. Hal ini oleh para teoris yang tidak setuju dengan Spearman diartikan bahwa inteligensi meliputi faktor memori, faktor kemampuan numerik, dan mungkin faktor lainnya.
Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dengan teori multifaktor ialah L.L. Thurstone (1938). Tes inteligensi yang dibuatnya diberi nama Primary Mental Ability (PMA); terdiri dari 56 tes, dan pola-pola korelasinya berhasil mengidentifikasi adanya faktor-faktor verbal comprehension, word fluency, perceptual speed, memory, numerical ability, spatial ability, dan reasoning.
Teori multifaktor yang lebih kompleks, diusulkan oleh J.P.Guilford (1967). Teorinya adalah teori tiga dimensi dan digambarkan dengan kubus. Model ini memberikan 120 faktor inteligensi. Tiap faktor direpresentasikan oleh sebuah sel pada kubus. Kombinas dari tiga dimensi tersebut adalah sbb:
Konsep inteligensi dari Guilford ini melibatkan apa yang disebutnya “berpikir divergen (divergent thinking)” yang erat hubungannya dengan pemecahan masalah yang kreatif, original, sebagai kebalikan dari “berpikir konvergen (convergent thinking)”.
c. Teori Hirarki (hierarchical theory). Teori ini merupakan gabungan antara teori faktor-G dengan teori multifaktor (Vernon, 1950). Menurut teori ini inteligensi digambarkan sebagai piramida. Puncak piramid, terdapat G (inteligensi umum) yang ditunjukkan benar-benar dengan segala macam aktivitas intelektual; di bawahnya adalah beberapa faktor kemampuan khusus (moderately specific ability) seperti PMA dari Thurstone; dan pada lapisan piramid paling bawah adalah sejumlah besar kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik (highly specific abilities).
Teori-teori Inteligensi Yang Berorientasi Pada Proses
Teori-teori ini fokusnya adalah proses-proses intelektual, yakni pola-pola berpikir yang digunakan orang ketika mereka melakukan penalaran dan memecahkan masalah. Teoris-teoris inteligensi yang berorientasi pada proses, lebih sering menggunakan istilah “kognisi” atau “proses kognitif” daripada istilah “inteligensi”. Para teoris ini juga cenderung memfokuskan perhatiannya pada proses perkembangan intelektual (proses-proses perubahan kemampuan intelektual setelah individu semakin dewasa).
a. Teori Piaget (1970). Pandangan Piaget: (a) Inteligensi merupakan suatu proses adaptif yang melibatkan interaksi antara kematangan biologis dengan lingkungan; (b) Perkembangan intelektual merupakan evolusi proses kognitif, seperti pemahaman terhadap hukum-hukum alam, prinsip-prinsip gramer, dan dalil-dalil matematika.
b. Teori Bruner (1973). Bruner berpandangan bahwa perkembangan intelektual sebagian merupakan pertumbuhan keyakinan (reliance) terhadap representasi internal. Misalnya: (a) Bayi mempunyai bentuk inteligensi yang berorientasi pada aksi, mengenal objek hanya berdasarkan sejauhmana mereka melakukan aksi terhadap objek tersebut; (b) Anak kecil mengenal sesuatu dengan merasakannya, dan sangat dipengaruhi oleh persepsi yang gamblang tentang karakteristik objek atau peristiwa; (c) Anak yang lebih besar dan orang dewasa mengenal sesuatu secara internal dan simbolik, yaitu dapat membedakan simbol-simbol internal atau representasi-representasi (perwujudan) internal dari objek-objek dan tindakan-tindakan. Bruner mencatat bahwa perkembangan kemampuan ini dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya oleh rewards dan punishment.
c. Teori-teori Pemrosesan Informasi. Teori-teori ini membedakan inteligensi ke dalam berbagai ketrampilan dasar yang digunakan orang untuk memasukkan informasi, memproses, dan kemudian menggunakannya untuk bernalar dan memecahkan masalah. Tokoh-tokohnya ialah: Robert Sternberg (1984), Huan Pascal Leong (1983), Siegler (1983), Fischer (1980).
Sumber :
Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986). Introduction to Psychology. Singapore : McGraw-Hill, Inc.
Apakah Tes Psikologis itu ?
Tes psikologis merupakan teknik terstruktur yang digunakan untuk memperoleh sampel perilaku yang terpilih secara hati-hati. Sampel perilaku ini digunakan untuk menyimpulkan ciri-ciri psikologis dari orang yang dites. Ciri-ciri psikologis yang dimaksud antara lain kecerdasan/inteligensi, harga diri (self-esteem), dsb.
Alat tes bukanlah sesuatu yang ajaib atau misterius. Seperti yang sudah disebutkan di atas, alat tes merupakan cara-cara standard yang digunakan untuk memperoleh sampel perilaku, yang hasilnya lebih informatif dari pada assesment yang dilakukan berdasarkan observasi acak terhadap perilaku beberapa individu. Nilai lebih dari alat tes adalah karena alat tes tersebut:
a. Seragam (Uniform). Prosedurnya ditentukan secara persis sehingga tester (pengetes) yang berbeda akan mengikuti langkah-langkah yang sama kapanpun mereka menggunakan alat tes tersebut. Hal ini berarti bahwa performance tes dari orang yang berbeda (atau dari orang yang sama yang dites ulang dalam waktu yang berbeda) dapat diperbandingkan secara langsung.
b. Objektif (Objective). Aturan skoring dan aturan administrasi (tata cara mengetes) yang jelas (mudah dimengerti). Dengan demikian pengaruh subjektif dari tester diminimalkan dan dampak bias-bias pribadi terhadap hasil penilaian dapat dikontrol.
c. Dapat Diinterpretasikan (Interpretable). Tes yang baik adalah tes yang telah teruji melalui penelitian yang membuat skor tes menjadi bermakna bagi psikolog. Penelitian yang dimaksud, misalnya menunjukkan bahwa orang dengan ciri-ciri tertentu cenderung tinggi/rendah skornya pada tes yang diteliti.
Bermacam-macam tes telah dikembangkan untuk mengukur berbagai karakteristik manusia. Yang paling luas berkembang di antaranya adalah tes prestasi, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur apa yang dapat dipelajari oleh manusia, misalnya ketrampilan membaca, aritmatika, dsb. Tes prestasi ini dikembangkan untuk keperluan pendidikan, dari tingkat pra sekolah hingga sekolah menengah. Dengan demikian yang lebih banyak menggunakan ialah para pendidik.
Berikut ini kita akan membahas dua jenis tes yang lebih banyak digunakan oleh para psikolog, yaitu tes kemampuan/kecakapan/bakat dan tes kepribadian.
a. Tes-tes Kemampuan. Tes kemampuan adalah tes yang dirancang untuk mengukur kapasitas atau potensi individu, dan bukan mengukur prestasinya yang aktual. Sebagian besar tes kemampuan ini disebut tes inteligensi dan sebagian besar lainnya disebut tes bakat.
• Inteligensi, menunjuk pada berbagai kemampuan umum yang merupakan seluruh kapasitas untuk belajar atau untuk memecahkan masalah. Tes inteligensi yang baik, dapat mengukur kapasitas individu, misalnya potensi anak untuk belajar di sekolah atau kemampuan orang-orang dewasa untuk mengatasi problem-problem intelektual yang umum.
• Bakat, menunjuk pada kemampuan untuk mempelajari ketrampilan tertentu di dalam situasi yang khusus. Misalnya, tes mekanik, tes bakat menjadi pilot, tes bakat menjual asuransi.
b. Tes-tes kepribadian. Kepribadian individu antara lain mencakup ciri-ciri/karakteristik dalam berpikir, merasakan, atau berperilaku. Tes kepribadian adalah tes yang dirancang untuk mengungkap beberapa pola karakteristik tersebut. Beberapa diantara tes kepribadian, mengukur sikap, yakni cara individu merespon orang lain / sesuatu hal / situasi, secara emosional dan secara kognitif. Beberapa tes kepribadian yang lain, mengukur minat, misalnya minat kerja. Sebagian kecil tes kepribadian yang lain, dirancang untuk mengukur proses-proses berpikir, kondisi emosi, atau pola-pola perilaku abnormal dan menunjukkan gangguan psikologis.
a. Reliabilitas. Tes yang baik harus reliabel (memiliki keajegan). Hal ini berarti bahwa tes tersebut menunjukkan hasil yang sama meskipun:
Reliabilitas biasanya diuji dengan membandingkan dua set skor yang berbeda. Dalam kenyataannya, tes psikologis tidak pernah reliabel secara sempurna. Tes-tes inteligensi biasanya menghasilkan koefisien korelasi reliabilitas .90 atau lebih tinggi (koefisien korelasi 1.00 menunjukkan korelasi yang sempurna, dan 0.00 menunjukkan tidak adanya korelasi apapun). Untuk tes-tes kepribadian, hampir semuanya memiliki reliabilitas yang lebih rendah dari .90. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakstabilan sikap, perasaan, dsb, yang diukur dalam tes kepribadian. Jika tes yang reliabilitasnya rendah digunakan, skornya harus diinterpretasikan secara hati-hati. Reliabilitas dapat ditingkatkan dengan cara membuat prosedur administrasi dan skoring yang seragam.
b. Validitas. Ini berarti bahwa suatu tes harus benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Validitas biasanya dijajagi dengan menggali bagaimana korelasi antara skor-skor tes tersebut dengan beberapa criterion (yaitu beberapa perilaku , kecakapan pribadi, atau karakteristik, yang mencerminkan atribut yang diukur oleh alat tes tersebut).
Contoh: Untuk menguji validitas alat ukur kecerdasan yang dibuat oleh Galton, skor dari berbagai tes psikomotorik (yang merupakan aspek-aspek tes kecerdasan dari Galton) dikorelasikan dengan penilaian kecerdasan yang diberikan oleh guru, ataupun hasil prestasi sekolah. Hasil koefisien/angka korelasi yang rendah menunjukkan bahwa tes yang dibuat Galton tidak valid untuk pengukuran intelligensi.
Koefisien korelasi validitas tidak pernah setinggi koefisien reliabilitas. Validitas antara.30 dan .40 adalah umum. Hubungan antara validitas dan reliabilitas adalah sbb: tes yang reliabel belum tentu valid, namun tes yang valid tentu reliabel.
c. Norma. Norma adalah paket skor tes yang dihasilkan dari kelompok orang yang representatif wewakili populasi yang menjadi sasaran tes tersebut (untuk siapa tes tersebut dibuat). Skor yang diperoleh dari kelompok tersebut menjadi dasar dalam menginterpretasikan skor individu yang diperoleh dari tes tersebut.
Contoh: Jika kita dikenai tes kecerdasan, kita tidak hanya akan menerima skor kita sendiri, namun juga perbandingan skor kita dengan kelompok tertentu yang ditetapkan untuk menentukan norma tes (norma biasanya ditetapkan dengan aturan presentil). Dengan adanya norma, skor tes kita dapat diinterpretasikan, apakah masuk kategori genius, superior, normal, dst).
Sumber :
Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986). Introduction to Psychology. Singapore : McGraw-Hill, Inc.
Untuk mendapatkan diagnosis Generalized Anxiety Disorder, seseorang harus mengalami tingkat kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, yang...