Gangguan Kecemasan Sosial ( Social Anxiety Disorder )
RELASI SOSIAL (SOCIAL RELATIONSHIP)
RELASI SOSIAL (SOCIAL RELATIONSHIP)
Para ahli Psikologi Sosial telah mempelajari sejumlah faktor yang membantu dalam menetapkan pembentukan dan pengelolaan relasi interpersonal (hubungan antar pribadi). Mengapa orang saling tertarik satu sama lain ? Proses-proses apa yang terjadi di dalam pembentukan hubungan-hubungan yang berkembang secara alamiah ? Berikut ini jawabannya.
1. Daya Tarik Antar Pribadi (Interpersonal Attraction)
Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa orang yang kita sukai dan merupakan teman yang baik, dan ada juga beberap orang yang tidak kita sukai dan kita hindari. Pertanyaannya adalah mengapa kita menyukai beberapa orang lebih dari yang lain ? Berikut ini adalah faktor-faktor khusus yang mempengaruhi perasaan kita untuk tertarik satu sama lain:
- Kedekatan Fisik (Proximity). Hal ini dari penelitian Festinger (1950) terhadap penghuni sebuah kompleks perumahan yang formasinya membentuk huruf U, dan penghuni yang paling ujung bersebelahan dengan lapangan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa (a) persahabatan lebih sering terjadi antara tetangga yang bersebelahan rumah; (b) jarak semakin jauh (lebih dari empat rumah), persahabatan semakin jarang; (c) penghuni yang tinggal di ujung, temannya sekompleks lebih sedikit.
Penelitian Festinger terhadap penghuni apartemen hasilnya sbb.: penghuni yang tinggal di dekat pintu masuk, dekat lift, dan kotak surat, terbukti lebih populer. Dengan demikian berarti bahwa meningkatnya frekuensi kontak antar individu juga meningkatkan kemungkinan berkembangnya persahabatan.
- Kesamaan Sikap (Attitude Similarity). Berbagai penelitian mengenai hubungan antara kesamaan sikap dengan ketertarikan menunjukkan hasil yang meyakinkan. Namun demikian berbagai studi tersebut sulit membedakan kesamaan sikap yang berkembang sebelum perkawinan/persahabatan dengan kesamaan sikap yang berkembang sebelum perkawina/persahabatan. Dalam hal ini masih perlu eksperimen yang memastikan masing-masing: (a) pengaruh kesamaan sikap terhadap perkawinan/persahabatan; (b) pengaruh perkawinan/persahabatan terhadap kesamaan sikap.
- Daya Tarik Fisik (Physical Attractiveness). Peranan daya tarik fisik terhadap ketertarikan ditunjukkan dengan jelas dari hasil penelitian Walster dkk. (1966): Di sebuah Universitas yang besar di AS diselenggarakan computer dance. Pasangan dansa ditentukan secara random dengan menggunakan komputer. Setelah berdansa, partisipan ditanyai mengenai sejauh mana dia menyukai kencannya tersebut dan keinginannya untuk melanjutkan dengan kencan lebih lanjut. Dari berbagai faktor yang ditanyakan oleh peneliti (antara lain kepribadian dan intelektualitas), ternyata bahwa daya tarik fisik merupakan faktor yang menentukan kesenangan dalam berkencan dan keinginan untuk melakukan kencan lebih lanjut.
2. Perkembangan dan Pengelolaan Hubungan
Untuk memahami kelangsungan suatu hubungan, kiranya perlu diketahui adanya dua teori penting mengenai hal tersebut. Teori pertama, adalah Teori Pertukaran Sosial (Thibaut & Kelley, 1959, 1978) yang menggambarkan dinamika alamiah hubungan interpersonal; dan teori kedua adalah mengenai tahapan perkembangan suatu hubungan yang dikemukakan oleh G. Levinger dan J.D. Snoek (1972).
A. Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory). Thibaut & Kelley dalam teori ini menekankan adanya saling ketergantungan dalam relasi sosial. Mereka menyatakan bahwa kualitas outcomes (perolehan) yang diterima/dialami oleh dua orang yang berhubungan adalah tergantung dari perilaku masing-masing orang tersebut. Outcomes, yaitu fungsi gabungan antara pengalaman menyenangkan (reward) yang dihasilkan dari serangkaian perilaku dan biaya-biaya (cots) yang diperlukan untuk menghasilkan perilaku tersebut.
- Reward, adalah berbagai peristiwa yang menghasilkan pengalaman yang me-nyenangkan, memuaskan, menggembirakan.
- Costs, meliputi faktor-faktor yang menghambat atau menyulitkan dalam membawakan suatu perilaku, seperti usaha, rasa malu, dan kecemasan.
- Outcomes dari serangkaian perilaku adalah hasil dari reward yang diperoleh dikurangi dengan costs yang dikeluarkan.
B. Tahapan Perkembangan Hubungan. Levinger dan Snoek menyarankan suatu framework untuk menggambarkan perkembangan alamiah suatu hubungan, berdasarkan teori pertukaran sosial. Mereka menggambarkan tiga tahapan keterlibatan:
+ Unilateral awareness, tahap yang paling dangkal (superficial ). Pada tahap ini individu memperhatikan keberadaan seseorang dan mengevaluasi karakteristik orang tersebut. Sebelum terjadi kontak, ciri-ciri yang nampak, yakni daya tarik fisik, merupakan faktor yang sangat penting. Langkah ini merupakan penjajagan apakah hubungan dengan orang tersebut menguntungkan di kemudian hari.
+ Surface contact, terjadi bila dua orang individu memulai interaksi. Interaksi pada tahap ini diwarnai dengan norma-norma budaya yang umum dan etika sosial. Pada tahap ini penting peranan proses keterbukaan diri, yaitu proses seseorang membiarkan dirinya diketahui oleh pihak lain, dengan cara membuka pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Jika pada tahap ini berlangsung menyenangkan, hubungan dapat meningkat ke stase berikut nya.
+ Stase mutuality. Pada stase/tahap ini masing-masing individu mulai merasakan adanya tanggung jawab akan outcomes yang diterima oleh pihak lain (partner) dalam hubungan dengan dirinya. Masing-masing berperan memaksimalkan outcomes, baik untuk dirinya sendiri maupun partnernya.
Hubungan dapat berjalan dengan keterlibatan yang semakin meningkat, namun demikian dapat juga berjalan mundur dan memburuk. Besarnya reward yang dialami dalam interaksi mungkin berkurang karena minat yang berbeda atau karena situasi yang membatasi kemampuan partner untuk memberikan reward. Demikian juga, mungkin costs yang diperlukan untuk menghasilkan perilaku di dalam relasinya semakin meningkat. Berkurangnya kepuasan dalam hubungan akan direfleksikan dengan berkurangnya keterbukaan yang intim, berkurangnya kepedulian terhadap kualitas outcomes yang diterima oleh partner, dan meningkatnya interaksi-interaksi yang bersifat formal seperti pada tahap keterlibatan awal (dangkal).
Catatan: Pada umumnya hubungan antar individu berlangsung menurut tahapan-tahapan tersebut di atas, namun untuk relasi bisnis, biasanya hubungan hanya berlangsung dalam tahap yang dangkal, hanya melayani kebutuhan untuk mencapai tujuan-tujuan eksternal.
3. Keadilan Dalam Relasi Sosial
Gerald Leventhal (1976) mengusulkan tiga peraturan keadilan yang sering digunakan sebagai standard/norma/patokan dalam menentukan keadilan dalam relasi sosial. Peraturan-peraturan tersebut meliputi contribution rule, needs rule, dan equality rule. Ketiganya diterapkan pada situasi yang berbeda-beda dan untuk bentuk-bentuk hubungan yang berbeda-beda.
a. The Contributions Rule and Equity (Aturan Kontribusi dan Keseimbangan). Aturan kontribusi seringkali diidentifikasi sebagai konsep keseimbangan. Menurut prinsip ini, relasi dianggap adil bila individu-individu yang terlibat di dalam hubungan menerima outcomes yang proporsional dengan kontribusi yang mereka berikan (input). Yang paling besar kontribusinya, menerima outcomes paling besar. Di sini tidak ada peraturan bahwa input harus sama. Yang penting perbandingan antara outcomes dan input harus sama. Sebagai contoh, karena biaya dan lama studi seorang dokter lebih besar dari pada perawat, maka semua orang beranggapan bahwa adil jika gaji dokter lebih besar dari pada gaji perawat.
Bila dirasa ada ketidakadilan, individu akan merasa tertekan, dan termotivasi untuk memperbaiki keseimbangan dengan cara:
- Memperbaiki keseimbangan aktual (actual equity), yaitu dengan mengubah outcomes atau input. Contohnya, seorang pekerja yang merasa gajinya terlalu kecil berusaha untuk mengurangi input-nya dengan bekerja sesedikit mungkin (bermalas-malasan) atau berusaha meningkatkan outcomes dengan cara mencuri milik perusahaan.
- Memperbaiki keseimbangan psikologis (psychological equity), yaitu dengan mengubah persepsinya terhadap situasi kerja. Sebagai contoh, karyawan mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa meskipun gajinya kecil, namun dia menikmati pekerjaan tersebut.
b. The Needs Rule and Social Responsibility (Aturan Kebutuhan dan Tanggung Jawab Sosial. Aturan ini menyatakan bahwa outcomes harus didistribusikan seseuai dengan kebutuhan individu yang jumlahnya relatif. Keadilan ini diwujudkan di dalam norma tanggung jawab sosial, di mana kita didorong untuk menanggapi kebutuhan yang syah (legitimate) yang ada pada orang lain. Berbagai lembaga dana, organisasi-organisasi pelayanan, dan kementrian kesejahteraan rakyat, menunjukkan adanya penerimaan masyarakat terhadap aturan keadilan ini. Pada level individu, sejumlah studi telah menunjukkan bahwa para partisipan (subjek penelitian) berbuat memenuhi kebutuhan orang lain jika mereka mempertimbangkan orang lain tersebut tidak terlayani.
c. The Equality Rule (Aturan Persamaan). Aturan ini secara sederhana menyatakan bahwa outcomes harus didistribusikan secara sama rata di antara para partisipan yang terjalin dalam suatu hubungan, dengan mengabaikan kontribusi ataupun kebutuhan-kebutuhan individu. Aturan ini paling mudah untuk diterapkan karena partisipan tidak perlu melakukan penjajagan input ataupun kebutuhan-kebutuhan yang syah.
Pengaruh Sosial (Social Influence)
Stereotype
Persepsi Sosial
Perbedaan Antara Sosiologi dan Psikologi
Apakah perbedaan di antara Sosiologi dan Psikologi ??
Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan.
Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial .
Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal - persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya - sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan struktur sosial.
Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.
Psikologi Sosial
Psikologi Sosial
Gordon Allport (1968) menjelaskan bahwa seorang boleh disebut sebagai psikolog sosial jika dia "berupaya memahami, menjelaskan, dan memprediksi bagaimana pikiran, perasaan, dan tindakan individu-individu dipengaruhi oleh pikiran, perasaan, dan tindakan-tindakan orang lain yang dilihatnya, atau bahkan hanya dibayangkannya"
Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan
(1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk instink-instink biologis - lalu dikenal dengan penjelasan "nature" - dan
(2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka - dikenal dengan penjelasan "nurture".
Penjelasan "nature" dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup. Mc Dougal sebagai seorang psikolog cenderung percaya bahwa seluruh perilaku sosial manusia didasarkan pada pandangan ini (instinktif).
Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. Misalnya William James, seorang psikolog percaya bahwa walau instink merupakan hal yang mempengaruhi perilaku sosial, namun penjelasan utama cenderung ke arah kebiasaan - yaitu pola perilaku yang diperoleh melalui pengulangan sepanjang kehidupan seseorang. Hal ini memunculkan "nurture explanation". Tokoh lain yang juga seorang psikolog sosial, John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan - "situasi kita" - termasuk tentunya orang lain.
Berbagai alternatif yang berkembang dari kedua pendekatan tersebut kemudian memunculkan berbagai perspektif dalam psikologi sosial - seperangkat asumsi dasar tentang hal paling penting yang bisa dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu :
- perilaku (behavioral perspectives) ,
- kognitif (cognitive perspectives),
- stuktural (structural perspectives), dan
- interaksionis (interactionist perspectives).
Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka sering menawarkan jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan : "Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?". Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang.
Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.
Perspektif struktural dan interaksionis lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah : " Sejauh mana kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?". Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang mahasiswa rajin belajar, karena masyarakat mengharapkan agar yang namanya mahasiswa senantiasa rajin belajar. Seorang ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ? Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka dia tidak pantas disebut sebagai "seorang ayah". Perspektif interaksionis lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-harapan sosial. Manusia bernegosiasi satu sama lainnya untuk membentuk interaksi dan harapannya. Untuk lebih jelas, di postingan yang lain akan diuraikan satu persatu keempat prespektif dalam psikologi sosial.
PERSEPSI TENTANG DIRI SESEORANG (Psikologi Sosial)
PEMBENTUKAN KESAN
Ciri Khas
§ Evaluasi senang atau tidak senang: merupakan dimensi dasar terpenting dalam persepsi seseorang terhadap orang lain (Rosenberg, Nelson, dan Vivekanantahan, dalam Sears dkk 1994)
§ Proses pembentukan sering bersifat mekanis, cenderung hanya mencerminkan sifat orang lain yang diamati.
Model Pembentukan Kesan Menyeluruh
§ MODEL MERATA-RATAKAN: kumpulan informasi mengenai sisi positif dan negatif digabungkan dan dirata-ratakan. (merupakan cara evaluasi yang terbaik)
§ MODEL MENAMBAHKAN: pengamat menilai orang lain dengan kaca mata positif, sehingga penilaian cenderung tinggi.
Konsistensi Kesan
Orang cenderung membentuk kesan atas karakteristik orang lain secara konsisten, kendati dengan sedikit informasi.
Prinsip ini mengandung bias dalam penilaian:
- IMPLICIT PERSONALITY THEORY
Contoh: Jika seseorang ramah, berarti sekaligus murah hati, rendah hati, toleran, dsb.
- HALLO EFFECT
Contoh: Orang yang buruk selamanya dianggap buruk
PENDEKATAN KOGNITIF
Ini merupakan alternatif dari pendekatan mekanis tsb di atas dalam pembentukan kesan.
Dalam pendekatan ini pengamat tidak hanya mempertimbangkan penggalan-penggalan informasi secara terpisah, melainkan berupaya menyimpulkan kesan tentang seseorang secara keseluruhan. Hal ini memiliki implikasi tertentu:
- KONTEKS
Setiap karakteristik akan diberi makna berbeda jika konteksnya berbeda.
- CENTRAL TRAIT
Beberapa ciri yang melekat pada seseorang diasumsikan lebih berarti daripada ciri lainnya.
Misalnya, seseorang yang digambarkan memiliki ciri-cir: rajin, tekun, teliti, dingin, bertanggungjawab. Orang tsb cenderung dinilai negatif karena adanya ciri “dingin” (dianggap penting!) meski memiliki ciri-ciri lain yang positif.
§ Penilaian terhadap ciri-ciri lahiriah dapat lebih akurat
§ Konteks yang melatarbelakangi lebih mempermudah penilaian agar lebih akurat
§ Penilaian terhadap keadaan internal (perasaan, emosi, kepribadian, motivasi, dsb) lebih sulit, cenderung kurang akurat.
KOMUNIKASI NON-VERBAL
Manusia mengkomunikasikan diri sendiri melalui dua saluran: komunikasi verbal (dengan pembicaraan) dan komunikasi non verbal.
Komunikasi non-verbal adalah aktivitas menyampaikan informasi tanpa mempergunakan bahasa. Terdapat dua saluran komunikasi non-verbal:
§ Yang kelihatan: JARAK FISIK, ISYARAT, KONTAK MATA
§ Parabahasa : Parabahasa merupakan keragaman berbicara yang berbeda dari kata-kata actual atau tata-kalimat, yang memuat banyak arti, mencakup: NADA SUARA, KERAS LEMBUT SUARA, IRAMA NAIK TURUNNYA SUARA, SIKAP RAGU MENYAMPAI-KAN INFORMASI.
MASALAH PENIPUAN
§ Untuk mengetahui apakah seseorang berbohong, petunjuk yang dapat digunakan adalah petunjuk verbal dan non-verbal.
§ Apabila seseorang berbohong secara verbal (dengan kata-katanya) maka dapat digunakan petunjuk non-verbal. Hal ini karena saluran non-verbal lebih sulit untuk dikendalikan sehingga mudah “bocor”.
§ Mereka yang menipu biasanya menunjukkan ekspresi cemas, tegang, dan gugup melalui saluran parabahasa. Misalnya, rata-rata nada suaranya lebih tinggi bila dibanding ketika tidak berbohong (Ekman et al, 1976; Krauss et al, 1976).
____________________________________________
Sumber:
Sears, David, O., Freedman, J.L., Peplau, L.A. 1994. Psikologi Sosial.Edisi bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
KOGNISI SOSIAL (Psikologi Sosial)
KOGNISI SOSIAL
Pendekatan utama dalam Psikologi Sosial justru menekankan pentingnya proses kognitif. Dalam konteks persepsi manusia, hal ini dinamakan KOGNISI SOSIAL. Yang menjadi inti pendekatan ini adalah:
- Bahwa persepsi manusia merupakan proses kognitif, yaitu: Orang merupakan pengamat yang mengorganisasi secara aktif, yang dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengembangkan kesan yang terpadu dan berarti, bukan sekedar rasa suka dan benci.
- Kemampuan pemrosesan kita terbatas sehingga menggunakan serangkaian jalan pintas kognitif.
- Memproses informasi tentang orang, termasuk pengamatan atas beberapa arti yang melekat pada objek.
- Para pengamat cenderung memberikan perhatian khusus teradap bagian yang paling menonjol.
- Kita menyusun bidang perceptual dengan mengkategorikan stimulus
- Kita melihat stimulus sebagai bagian dari struktur. Masing-masing stimulus cenderung mempunyai hubungan dengan stimulus lainnya menurut waktu, ruang, dan arus sebab-akibat.
KEMENONJOLAN
Apa yang menentukan penonjolan sebuah petunjuk dibandingkan petunjuk yang lain?
· KECERAHAN (brightness)
· KEBISINGAN (noise)
· GERAKAN (movement)
· SESUATU YANG BARU (novelty)
Bagaimana penonjolan mempengaruhi persepsi?
· Memberikan tanggapan kepada stimuli paling menonjol tanpa memproses semua informasi.
· Orang yang lebih meninjol dipandang lebih berpengaruh atas konteks sosialnya.
· Evaluasi terhadap seseorang yang menonjol biasanya lebih ekstrim daripada evaluasi terhadap orang yang kurang menonjol.
· Kemenonjolan meningkatkan keterpaduan kesan.
KATEGORISASI
Dalam mengkategorikan orang:
· Mengkategorikan berdasarkan persamaan alamiah dalam penampilannya ( jenis kelamin: pria-wanita, rambut: panjang-pendek, jenis pakaian: murah-mahal, dsb)
· Melakukan pengelompokan social (berdasarkan ras, dsb)
· Mengkategorikan berdasarkan Prototipe, yaitu berdasarkan persamaan seseorang dengan contoh ideal. Misal, orang yang berpakaian bagus dianggap sebagai orang kaya.
Diskriminasi antar kelompok
Berbagai telaah menunjukkan bawa tindakan mengkategorisasikan dapat mengasilkan diskriminasi jika tindakan itu melibatkan pengkategorian orang menjadi KAMI (IN-GROUP) dan MEREKA (OUT-GROUP). In-group adalah kelompok dimana “saya” menjadi anggota , dan out-group adalah kelompok dimana “saya” tidak menjadi anggota.
Kategorisasi semacam ini menjurus pada favoritisme (penilaian positif) terhadap in-group dan diskriminasi (penilaian negatif) terhadap out-group.
Konsekuensi kategorisasi:
· Mempercepat waktu pemrosesan informasi
· Menyederhanakan dan mempermudah pemrosesan
· Dapat mengarah pada kesalahan persepsi
SKEMA
Definisi:
Serangkaian pemahaman yang teratur dan berstruktur, mencakup pengetahuan mengenai objek dan hubungan antar berbagai informasi (Taylor & Crocker dalam Sears et.al.1994)
Isi skema
TEORI TENTANG TIPE KEPRIBADIAN, SIKAP, STEREOTIP TTG KELOMPOK, PERSEPSI JENIS KEJADIAN.
Fungsi skema:
· Membantu dalam memproses informasi yang rumit dengan menyederhanakan dan menyusunnya
· Membantu dalam mengingat dan menyusun detil
· Mempercepat waktu pemrosesan
· Mengisi kesenjangan pengetahuan
· Membantu menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi baru
Jenis-jenis skema
· Skema tentang pribadi seseorang (®teori kepribadian implisit). Misal, Abraham Lincoln memiliki kepribadian sangat teliti, jujur, serius dalam menjalankan tugas, dan peduli terhadap orang yang lemah. Sifat-sifat tersebut dinilai saling berubungan.
· Skema tentang diri pribadi. Misal, menggambarkan diri sebagai orang yang mandiri, tegas, dst.
· Skema untuk kelompok (®stereotip). Stereotip adalah pemberian label ciri-ciri khusus terhadap kelompok tertentu (kelompok ras/etnis, agama, jenis kelamin, dsb). Misal, menganggap orang kulit hitam sebagai orang yang bodoh, pemabuk, dsb.
· Skema peran. Misal, peran guru adalah menyampaikan materi pelajaran, memberi latihan, menguji kemampuan siswa, dsb.
· Skema tentang kejadian (serangkaian standar kejadian). Misalnya, jajan (makan) di restoran fast-foot, meliputi antri, memilih menu, memesan, membayar, lalu menyantap makanan pesanan.
Perbedaan individual
· Ada orang yang berpikir skematik, ada yang tidak
· Ada beberapa skema yang dianut secara luas:
- Teori kepribadian implicit
- Stereotip ras dan etnik
· Ada skema yang bersifat individual (tidak dianut bersama)
· Ada skema kelompok: berbagai kelompok yang berbeda memiliki skema yang berlainan tentang urutan perilaku
PEMROSESAN SKEMATIK
Keuntungan yang diperoleh: (lihat fungsi skema!)
Kendala-kendala:
· Kecenderungan menerima informasi baru hanya jika informasi tersebut sesuai untuk mengisi kesenjangan pikiran dengan menambahkan unsure-unsur yang sesuai dengan skema.
· Penyusunan cenderung kita buta terhadap ketidakkonsistenan
· Penyederhanaan yang berlebih-lebian
· Abstraksi menjauhkan kita dari realitas kongkrit
· Stereotip dapat berbahaya
· Teori kepribadian implicit dapat menjurus ke kesalahan
· Dapat menjerumuskan ke interpretasi yang keliru, prediksi yang tidak akurat, dan cara respon yang kaku.
Sumber:
Sears, David, O., Freedman, J.L., Peplau, L.A. 1994. Psikologi Sosial.Edisi bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Atribusi ( Kesimpulan Tentang Orang lain)
KRITERIA DIAGNOSTIK GENERALIZED ANXIETY DISORDERS
Untuk mendapatkan diagnosis Generalized Anxiety Disorder, seseorang harus mengalami tingkat kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, yang...
-
Tahap Operasi Konkret (Umur 7 – 11 tahun) Tahap ini dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan aturan-aturan yang logi...
-
Guilford (1971 dalam Khatena, 1992), yang terkenal teorinya dengan istilah Struktur Intelek ( Structure of Intelect / SOI) . Gui...