Showing posts sorted by relevance for query Atribusi. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Atribusi. Sort by date Show all posts

Atribusi ( Kesimpulan Tentang Orang lain)

ATRIBUSI

Untuk menilai orang lain berdasarkan sifat-sifat, tujuan, atau kemampuan tertentu, mengharuskan kita untuk membuat atribusi atau kesimpulan tentang mereka. Karena kita tidak memiliki akses tentang pikiran-pikiran pribadi, motif, ataupun perasaan orang lain, kita membuat kesimpulan tentang sifat-sifat mereka berdasarkan perilaku yang dapat kita amati. Dengan membuat atribusi semacam itu kita dapat meningkatkan kemampuan kita dalam meramalkan apa yang diperbuat oleh orang tersebut di kemudian hari.
Secara sederhana Atribusi sering diartikan sebagai kesimpulan tentang sebab-sebab perilaku seseorang.
Terdapat beberapa pendekatan berlainan yang dapat digunakan untuk menjelaskan proses atribusi. Tiap-tiap pendekatan memiliki prinsip dasar untuk menyimpulkan sebab-sebab perilaku.

1.  Psikologi Naif dari Heider
Minat Psikologi Sosial terhadap proses atribusi diawali dengan teori Fritz Heider (l958), yang peduli tentang usaha kita untuk memahami arti perilaku orang lain, khususnya bagaimana kita mengidentifikasi sebab-sebab tindakannya. 
Secara umum, perilaku dapat disebabkan oleh daya-daya personal (personal forces), seperti kemampuan atau usaha, atau oleh daya-daya lingkungan (environmental forces), seperti keberuntungan atau taraf kesukaran suatu tugas. Jika suatu tindakan diatribusi sebagai  daya personal, akibatnya akan berbeda dengan tindakan yang diatribusi sebagai daya lingkungan.  Misalnya, andaikan kita sedang antre utuk membeli tiket di Gedung Bioskop, tiba-tiba seorang laki-laki tinggi-besar menabrak kita. Kita mungkin mengatribusinya sebagai daya pribadi (kita simpulkan sebagai kesengajaan dari laki-laki itu untuk menyakiti kita). Jika demikian, kita akan marah atau sakit hati. Namun jika kita mengatribusi peristiwa tersebut disebabkan daya lingkungan (misalnya kita simpulkan sebagai kecelakaan karena laki-laki tersebut tersandung karpet yang tidak rata), maka kita akan memaafkan laki-laki tersebut atau bersikap ramah terhadapnya. 
Kita menyimpulkan (mengatribusi) suatu tindakan disebabkan daya personal hanya jika orang yang kita persepsi tersebut mempunyai kemampuan untuk bertindak, berniat untuk melakukan, dan berusaha untuk menyelesaikan tindakannya. Jika demikian atribusi kita, kita beranggapan bahwa hal tersebut berhubungan dengan sifatnya, sehingga dapat kita gunakan untuk meramalkan tindakan-tindakannya di masa yang akan datang. Di sisi lain, jika kita mengatribusi sebagai daya lingkungan, hal ini tidak ada hubungannya dengan sifat orang yang kita persepsi, sehingga tidak dapat digunakan untuk meramalakan tindakan-tindakannya di masa yang akan datang.

2. Teori Atribusi dari Kelley
Teori atribusi dari Harold Kelley (1967, 1973) ini merupakan perkembangan dari teori Heider. Seperti Heider, fokus teori ini adalah bagaimana caranya menentukan, apakah tindakan tertentu disebabkan oleh daya-daya internal atau daya-daya eksternal. Kelley berpandangan bahwa suatu tindakan merupakan suatu akibat atau efek yang terjadi karena adanya sebab, Oleh sebab itu Kelly mengajukan suatu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya hal-hal yang menunjuk pada  penyebab tindakan, apakah daya internal atau daya eksternal. 
Kelley mengajukan tiga faktor dasar yang kita gunakan untuk memutuskan hal tersebut:  (a) Konsistensi (consistency) respon dalam berbagai waktu dan situasi, yaitu sejauh mana respon tertentu selalu terjadi pada saat hadirnya stimulus atau keadaan tertentu; (b) Informasi konsensus (consensus information), yaitu sejauh mana orang-orang lain merespon stimulus yang sama dengan cara yang sama dengan orang yang kita atribusi; (c) Kekhususan (distinctiveness), yaitu sejauh mana orang yang kita atribusi tersebut memberikan respon yang berbeda terhadap berbagai stimulus yang kategorinya sama. 
Kombinasi antara konsistensi yang tinggi, konsensus yang tinggi, dan kekhususan yang tinggi, menghasilkan atribusi eksternal; sedangkan konsistensi yang tinggi dikombinasi dengan konsensus yang rendah dan kekhususan yang rendah, menghasilkan atribusi internal.

Contoh:
Umpamakan anda mencari restoran yang baik, dan seorang teman anda mengusulkan sebuah restoran Perancis. Bagaimana cara anda mengetahui, apakah usul teman anda itu karena faktor eksternal (atribusi eksternal) yaitu karena restoran itu sendiri memang baik; ataukah karena faktor personal (atribusi internal) yaitu karena sifat-sifat pribadi teman anda-lah yang menentukan pilihannya tersebut.  Jika anda menanyakan perihal restoran Perancis yang disarankan teman anda tersebut kepada beberapa orang yang lain dan ternyata mereka juga berpendapat bahwa restoran tersebut memang baik (konsensusnya tinggi); dan jika anda ketahui bahwa teman anda tersebut tidak begitu suka terhadap restoran-restoran yang lain, termasuk restoran-restoran Perancis yang lain (kekhususannya tinggi); dan jika teman anda tersebut telah berkunjung lebih dari satu kali ke restoran yang disarankannya dan selalu suka terhadap restoran tersebut (konsistensinya tinggi), maka anda akan membuat atribusi eksternal terhadap usulan teman anda tersebut. Artinya anda akan beranggapan bahwa restoran tersebut memang benar-benar baik, sehingga anda memilih untuk berkunjung ke sana. Di sisi lain, jika ternyata beberapa teman anda tidak menyukainya (konsensusnya rendah); dan anda tahu bahwa teman anda tersebut jarang mengatakan bahwa restoran yang lain tidak baik (kekhususannya rendah); maka anda akan membuat atribusi internal, yaitu anda beranggapan bahwa teman anda menyukai restoran tersebut hanya karena ia suka makan di restoran-restoran dan bahwa dia tidak dapat membedakan mana restoran yang baik dan mana yang sedang-sedang.
Jika konsistensinya tidak tinggi, hal ini tidak dapat mengarahkan pada atribusi internal maupun eksternal. Mungkin terdapat faktor penentu yang lain yang mempengaruhi perilaku. Misalnya, jika teman anda tersebut hanya beberapa waktu menyukai restoran tersebut, anda dapat berpikir bahwa manajemen atau kepala restoran tersebut telah berganti.

3. Teori tentang Atribusi Personal (Jones dan Davis)
E.E. Jones dan Keith Davis (1965) memfokuskan perhatiannya terhadap bagaimana cara kita menyimpulkan, apakah perilaku seseorang mencerminkan watak pribadinya atau tidak. Seperti Heider, mereka beranggapan bahwa berbagai tindakan yang dilakukan seseorang merupakan hasil dari suatu urut-urutan yang diawali oleh sifat-sifat pribadi yang menghasilkan niat dan dimodifikasi oleh kemampuan, yang akhirnya menghasilkan tindakan-tindakan.  Namun mereka memperluas teori Heider tersebut dengan menyatakan bahwa dalam bertindak, seorang selalu mempunyai pilihan-pilihan, dan mendapatkan berbagai efek dari tindakannya. Untuk menyimpulkan watak seseorang, pengamat (perceiver) harus bekerja secara terbalik, yaitu dengan mengamati pilihan-pilihan tindakan beserta efek-efeknya. Dalam hal ini, pengamat tidak hanya melihat apa yang nyata-nyata dilakukan seseorang, namun juga memperhatikan sebenarnya apa saja yang dapat dilakukan. Apa yang dilakukan (tindakan yang dipilih) seseorang mempunyai berbagai efek. Di sisi lain, tindakan-tindakan yang sebenarnya mampu untuk dilakukan namun tidak dipilih, jika dipilih (benar-benar dilakukan) sebenarnya juga mempunyai efek. Efek-efek yang berbeda dari tindakan yang dipilih dan yang tidak dipilih itulah yang memberikan petunjuk mengenai niat yang ada pada seseorang, yang sekaligus dapat mencerminkan wataknya.
Faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam atribusi personal: apakah efek-efek tindakan yang dipilih itu baik atau buruk, menyenangkan atau tidak menyenangkan, diharapkan atau tidak diharapkan, positif atau negatif. Jika efek-efek tindakannya mempunyai nilai  negatif atau kurang diharapkan atau tidak menyenangkan atau tidak baik, hal ini lebih dapat mencerminkan watak atau sifat-sifat tertentu yang dimiliki orang yang bersangkutan. Misalkan, memilih bermain tenis pada waktu cuaca dingin dan hujan (dipandang sebagai tidak menyenangkan) lebih dapat menunjukkan motif atau niat seseorang dari pada jika orang tersebut bermain tenis pada waktu cuaca cerah (sudah sewajarnya bermain tenis pada saat cuaca cerah).

4.  Atribusi diri
Menurut Bem (1967,1972), dalam mengatribusi diri sendiri kita kebanyakan menggunakan proses yang sama seperti mengatribusi orang lain. Biasanya kita terlebih dahulu melihat apakah ada penyebab perilaku kita yang berasal dari lingkungan melalui daya-daya eksternal. Jika tidak ada, selanjutnya kita berasumsi (beranggapan) bahwa perilaku kita terjadi karena motif-motif internal atau sifat-sifat pribadi kita sendiri. Pada akhirnya kita akan mengenali karakter kita sendiri melalui perilaku-perilaku kita. 
Tokoh lain, Jones dan Nisbet (1972) membuat hipotesis yang lain, yaitu meskipun prosesnya mungkin sama, namun proses mengatribusi diri sendiri dan mengatribusi orang lain  tidaklah sama. Kita cenderung melihat perilaku kita lebih banyak dikendalikan oleh situasi, sementara kita melihat  perilaku orang lain lebih disebabkan oleh daya-daya internal. Perbedaan ini disebabkan karena kita melihat diri kita sendiri sebagai pribadi yang stabil yang berinteraksi dengan lingkungan yang berubah-ubah. Karena lingkungan yang berubah-ubah, maka kita menyimpulkan bahwa perubahan perilaku kita disebabkan karena perubahan situasi. Lain halnya jika kita mengamati perilaku orang lain, bagaimanapun juga kita melihat bahwa lingkungan merupakan faktor yang stabil dan orang (yang kita amati) berubah-ubah. Contoh yang mendukung hipotesis ini adalah hasil eksperimen Nisbet dkk. Yang menemukan bahwa ketika para mahasiswa menjelaskan alasannya memilih bidang studi tertentu, mereka cenderung menyebutkan baik kualitas jurusan yang dipilihnya maupun kualitas prbadinya sebagai dua faktor yang menentukan pilihannya. Namun demikian, ketika menjelaskan pilihan yang dilakukan oleh temannya, mereka lebih cenderung menekankan karakter pribadi teman tersebut dari pada kualitas jurusan pilihan temannya. 

Persepsi, Atribusi, dan Pembuatan Keputusan dalam Organisasi

Perception
Persepsi adalah adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan yang ditangkap oleh panca indera mereka untuk memberikan makna terhadap lingkungan..
Mengapa persepsi penting dalam berorganisasi?, karena perilaku masyarakat didasarkan  pada  persepsi  kenyataannya, bukan kenyataan pada diri sendiri , dan karena di dunai ini berperilaku adalah penting 

Faktor yang mempengaruhi persepsi
Faktor  dalam Subjek :                               -- Sikap 
- Motif
- Minat 
- Pengalaman 
- Pengharapan 
Faktor situasi :
- Waktu 
- Keadaan pekerjaan 
- Keadaan sosial 
Faktor terhadap objek :
- Kesenangan 
- Gerakan 
- Suara 
- Ukuran 
- Latar belakang 
- Kedekatan 
- Kesamaan 

Teori Atribusi
Pada saat individu mengamati perilaku mereka, mereka mencoba menentukan apakah disebabkan oleh internal atau eksternal 
Ada 3 situasi dalam perilaku individu :
- Distinctiveness
- Consensus
- Consistency
Kesalahan mendasar dalam atribusi, kecenderungan untuk meremehkan faktor eksternal dan lebih ke faktor intenal dalam menilai perilaku orang.

Bias(self serving bias), kecenderungan sifat individu2 untuk menyatakan kesuksesan karena faktor internal dan  menaruh kegagalan pada faktor eksternal 

Cara Singkat  Menilai Orang
- Selective Perception (persepsi yang selektif), Orang yang selektif mengartikan apa yang mereka lihat berdasarkan minat mereka, latar belakang, pengalaman, dan sikap.
- Hallo effect, gambaran umum tentang kesan seorang individu berdasarkan satu karakteristik.
- Evaluasi dari karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh perbandingan dengan orang lain yang ditemui baru-baru ini, siapa yang peringkatnya lebih tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang sama.
- Proyeksi 
Atribusi karakter diri sendiri kepada orang lain.
- Stereotyping
Menilai seseorang berdasarkan persepsi dari satu kelompok dimana orang tersebut berada.

Aplikasi spesifik dalam organisasi:
- Wawancara karyawan, interview sering membuat penilaian terahadap seseorang tidak akurat.
- Performance Expectations, Semakin rendah atau tingginya kinerja karyawan mencerminkan pengharapan pemimpin terhadap kemampuan karyawan.
- Ethnic Profiling, bentuk stereotyping di mana sekelompok individu adalah terpilih, biasanya atas dasar ras atau etnis untuk penyelidikan intensif reduce atau investigasi.
- Performance evaluation, penilaian sering subyektif dari penilaian karyawan lain

Hubungan antara persepsi dan membuat keputusan
- Problem, ketidakcocokan antara beberapa keadaan sekarang dan beberapa keadaan yang  dikehendaki.
- Decisions, Keputusan yang dibuat diantara beberapa alternatif yang dikembangkan dari data yang dianggap relevan.

Assumptions The Rational Decision-Making Model
Menggambarkan bagaimana individu harus bertindak untuk memaksimalkan hasilnya :
- Kejernihan masalah 
- Banyak pilihan 
- Hapus pilihan 
- Pilihan yang konstan 
- Tidak ada kendala waktu atau biaya 
- Hasil yang maksimal 

Steps in the Rational Decision-Making Model
1.Menetapkan masalah. 
2.Mengidentifikasi kriteria keputusan. 
3.Mengalokasikan bobot untuk kriteria. 
4.Membuat alternatif. 
5.Menilai alternatif. 
6.Pilih alternatif yang terbaik.

Tiga Komponen Kretifitas
- Keahlian 
- Motivasi 
- Tingkat Kreatifitas 

Bagaimana Membuat keputusan benar dalam Organisasi 
- Membatasi Rasionalitas 
Pengambilan keputusan oleh individu dibangun dari model yang disederhanakan, fitur intisari yang penting dari masalah tanpa mengambil seluruh kompleksitasnya.

- Common Bias and Errors
1.Overconfidence bias (Kepercayaan diri yang berlebih)
2. Anchoring bias (kecenderungan - memandang pada awal informasi)
3. Confirmation bias (hanya menggunakan fakta untuk mendukung keputusan)
4. Availability bias (Menggunakan informasi yang ada ditangan kita)
Representative bias (Menilai kemungkinan yang terjadi dengan mencocokkannya dengan kategori sebelumnya)
5. Escalation of Commitment (Meningkatkan komitmen untuk keputusan sebelumnya walaupun negatif)
6. Randomness Error (Mencoba membuat makna dari peristiwa acak dengan sasaran yang jatuh kepada control pendirian yang salah)
7. Hindsight Bias (memprediksi dengan melihat hasil sebelumnya)

Intuisi
Intuisi, tanpa sadar sebuah proses dibuat dari pengalaman 

Keputusan berbeda dari masing – masing individu 
- Kepribadian (ada aspek hati dan komitmen)
- Jenis kelamin (Perempuan cenderung untuk menganalisis keputusan lebih dari laki-laki)

Hambatan organisasi dalam membuat keputusan
- Evaluasi Kinerja (Kriteria evaluasi mempengaruhi pilihan tindakan)
- Sistem penghargaan (Keputusan tindakan membuat pilihan yang disukai oleh organisasi)
- Peraturan Formal (Peraturan dan kebijakan organisasi membatasi alternatif pilihan keputusan)
- Sistem menentukan waktu yang terhambat (organisasi membutuhkan keputusan pada saat deadline)
- Sejarah keteladanan (keputusan sebelumnya mempengaruhi keputusan sekarang)


Perbedaan budaya dalam pengambilan keputusan 

Etika dalam membuat keputusan
- Utilitarianism (Mencari yang paling baik untuk jumlah besar.) 
- Hak (Menghormati dan melindungi hak-hak dasar individu seperti whistleblowers.) 
- Keadilan (Mengagumkan dan menegakkan aturan-aturan yang adil dan impartially.)

Etika dan Budaya Nasional 
- Tidak ada standar-standar etika global. 
- Prinsip-prinsip etika organisasi global yang mencerminkan budaya lokal dan menghormati norma-norma yang diperlukan untuk standar yang tinggi dan konsisten praktek 

Cara untuk Meningkatkan Membuat Keputusan
- Menganalisa situasi dan menyesuaikan gaya keputusan agar sesuai dengan situasi. 
- Selalu sadar akan bias dan mencoba untuk membatasi dampak. 
- Menggabungkan intuisi dengan analisis rasional untuk meningkatkan efektivitas keputusan. 
- Jangan menganggap bahwa gaya keputusan anda sesuai untuk setiap situasi. 
- Meningkatkan kreativitas pribadi dengan mencari solusi dengan melihat masalah dalam cara-cara baru, dan menggunakan analogi.

Mengurangi bias dan errors
- Fokus pada tujuan, tujuan yang jelas membuat keputusan yang lebih mudah.
- Mencari informasi yang tidak sesuai kepercayaan, Cara efektif untuk mengatasi overconfidence ( ketika kita mempertimbangkan berbagai cara kita bisa salah dan  kecenderungan berpikir kita lebih pintar dari kita yang sebenarnya.) 
- Jangan mencoba untuk membuat arti dari peristiwa acak, Jangan mencoba membuat arti dari kebetulan. 
- Meningkatkan pilihan anda, Jumlah dan keragaman alternatif dalam meningkatkan kemungkinan untuk menemukan satu keputusan yang luar biasa.

Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective) (Psikologi Sosial)

 Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)

     Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di samping instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka dipandang terlampau ekstrem - karena mengabaikan kegiatan mental manusia.

     Seorang psikolog James Baldwin (1897) menyatakan bahwa paling sedikit ada dua bentuk peniruan, satu didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang perilakunya kita tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan pandangan Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif .

     Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan konsep sikap (attitude) untuk memahami proses mental atau kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang sikap, yang diartikannya sebagai proses mental individu yang menentukan tanggapan aktual dan potensial individu dalam dunia sosial". Sikap merupakan predisposisi perilaku. Beberapa teori yang melandasi perpektif ini antara lain adalah  Teori Medan (Field Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency Attitude and Attribution Theory), dan Teori Kognisi Kontemporer.

a. Teori Medan (Field Theory)

      Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji perilaku sosial melalui pendekatan konsep "medan"/"field" atau "ruang kehidupan" - life space. Untuk memahami konsep ini perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual (instink dan kebiasaan), bebas - lepas dari pengaruh situasi di mana individu melakukan aktivitas. Namun Lewin kurang sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi, tidaklah lengkap. Dia merasa bahwa semua peristiwa psikologis apakah itu berupa tindakan, pikiran, impian, harapan, atau apapun, kesemuanya itu merupakan fungsi dari "ruang kehidupan"- individu dan lingkungan dipandang sebagai sebuah konstelasi yang saling tergantung satu sama lainnya. Artinya "ruang kehidupan" merupakan juga merupakan determinan bagi tindakan, impian, harapan, pikiran seseorang. Lewin memaknakan "ruang kehidupan" sebagai seluruh peristiwa (masa lampau, sekarang, masa datang) yang berpengaruh pada perilaku dalam satu situasi tertentu.

       Bagi Lewin, pemahaman atas perilaku seseorang senantiasa harus dikaitkan dengan konteks - lingkungan di mana perilaku tertentu ditampilkan. Intinya, teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya. Sesungguhnya teori medan mirip dengan konsep "gestalt" dalam psikologi yang memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya,  kalau kita melihat bangunan, kita tidak melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara satu persatu. Demikian pula kalau kita mempelajari perilaku individu, kita tidak bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari konteks di mana individu tersebut berada.

b. Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and Attribution Theory)

      Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik. Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance). Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang (imbalance). Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman. Intinya sikap kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman.

     Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam kerangka "sebab dan akibat". Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan mencocokannya  dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi untuk memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider memperkenalkan konsep "causal attribution" - proses penjelasan tentang penyebab suatu perilaku. Mengapa Tono pindah ke kota lain ?, Mengapa Ari keluar dari sekolah ?. Kita bisa menjelaskan perilaku sosial dari Tono dan Ari jika kita mengetahui penyebabnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan atau situasi.  

c. Teori Kognitif Kontemporer

      Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya mewarnai konsep sikap. Istilah "kognisi" digunakan untuk menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang sebelum melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Manusia memproses informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi istilah "schema" (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe, 1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai kerangka yang dapat menginterpretasikan  pengalaman-pengalaman sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa membantu kita mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita untuk menyusun realitas sosial. Sistem ingatan yang kita miliki diasumsikan terdiri atas struktur pengetahuan yang tak terhitung jumlahnya.

       Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.  

Persepsi Sosial

PERSEPSI SOSIAL

Bagaimana caranya kita memahami orang lain? Persepsi sosial kita tentang orang lain pada awalnya didasarkan pada informasi yang kita peroleh mengenai mereka (pembentukan kesan), dan pada beberapa contoh didasarkan pada atribusi (kesimpulan) yang kita buat tentang sebab-sebab perilaku mereka. Secara Persepsi kita tentang perasaan dan kepribadian yang menjadi penyebab perilaku orang lain akan menuntun kita dalam memutuskan bagaimana kita akan merespon mereka dan hubungan seperti apa yang akan kita jalin dengan mereka.

1. Pembentukan Kesan

Pembentukan kesan tentang orang lain merupakan sesuatu yang sangat alami seperti halnya bernafas, sehingga kita hanya memikirkan prosesnya apabila terjadi suatu kesalahan. Pemebentukan kesan adalah proses di mana informasi tentang orang lain diubah ke dalam kognisi atau pikiran tentang mereka yang relatif menetap.  

Bila kita bertemu dengan seseorang, kita mempertimbangkan informasi-informasi : bagaimana penampilannya, apa yang ia lakukaan, apa yang ia katakan, dsb. Informasi-informasi tersebut tidak membanjiri kognisi kita secara berlimpah-limpah, melainkan kita kelompokkan ke dalam kategori-kategori yang memprediksikan/meramalkan hal-hal yang kita anggap penting.

Kategori-kategori tersebut serta hubungan-hubungan-nya yang dapat dirasakan, membentuk dasar cognitive framework (kerangka kerja kognitif) yang berguna untuk memahami orang lain. Kategori-kategori kognitif tersebut dapat meliputi karakteristik-karakteristik seperti jenis kelamin  (pria, wanita), peran pekerjaan (sopir, guru, dsb), peran sosial (sahabat, tetangga, dsb), ciri-ciri kepribadian (dominan, cerewet, dsb), atau ciri-ciri fisik (tinggi, gemuk, dsb.)

Hubungan antar kategori-kategori tersebut akan menentukan prediksi yang kita buat tentang seseorang ketika kita hanya memiliki informasi yang terbatas. Misalnya, anda berpikir bahwa orang yang mengenakan kacamata itu cerdas, kemudian kapanpun anda bertemu dengan orang yang memakai kacamata  anda anggap orang tersebut cerdas.

Ada tiga model kerangka kerja kognitif yang kita gunakan untuk memahami orang lain, yaitu Implicit Personality Theori (Teori Kepribadian Implisit), Combining Information (Penggabungan Informasi), dan Stereotype (Stereotip).

a. Impicit Personality Theory. 
     Untuk memahami orang lain, kategori yang sering digunakan adalah trait (ciri-ciri sifat). Trait merupakan skema klasifikasi yang digunakan untuk menggambarkan perilaku individu. Misalnya, asertif (tegas), bersahabat, tepat waktu, banyak bicara, dsb.
Trait  dapat kita rasakan saling berhubungan, dan terdapat pengelompokan-pengelompokan trait. Misalnya, Anda mengasumsikan (beranggapan) bahwa orang yang asertif sekaligus juga ambisius; atau orang yang  cerdas sekaligus juga tekun. Hubungan antara sifat-sifat tersebut (trait) disebut Imlicyt Personality Theory, yang menegaskan bagaimana kerangka kerja kognitif kita menghasilkan ramalan-ramalan tentang orang lain di luar informasi yang kita terima.
Asumsi-asumsi yang kita buat mengenai orang lain dapat berupa asumsi yang unik yang dilandasi pengalaman khusus kita sendiri, atau berupa asumsi-asumsi yang dilandasi faktor budaya. Asumsi-asumsi yang dilandasi faktor budaya akan memiliki kesamaan dengan asumsi-asumsi yang dibuat oleh orang-orang lain yang berada dalam budaya yang sama dengan kita.
Teori Kepribadian Implisit membantu kita untuk menyederhanakan informasi yang kita terima dalam interaksi sosial, memperkaya cara kita mengartikan suatu peristiwa,  dan memandu kita dalam merespon orang-orang lain.

b. Combining Information.
    Saat kita bertemu dengan seseorang dan telah menentukan kira-kira bagaimana karakter orang itu, bagaimana cara kita memutuskan apakah kita akan melanjutkan hubungan dengan orang itu atau tidak ? Untuk memutuskannya, kita harus membuat perkiraan global tentang perasaan kita terhadap orang itu. Salah satu prosedur yang  dapat kita ikuti adalah dengan mengumpulkan karakter yang kita sukai dari orang itu. Jika ini kita lakukan, kita akan menemukan kesan yang lebih positif. Misalnya, jika kita menganggap orang itu baik dan jujur, akan kita temukan kesan yang lebih positif daripada jika kita menganggap dia hanya baik. Prosedur yang lain adalah kita merata-ratakan informasi tentang karakter yang ada. 
Dalam pembentukan kesan sering terjadi hal yang disebut primacy effect , yakni efek kesan pertama. Bahwa kesan pertama sangat menentukan pandangan terhadap seseorang. Hal ini terbukti dari hasil-hasil penelitian. Dengan demikian nampaknya masuk akal apabila banyak orang yang berusaha tampil secara khusus pada pertemuan pertama.
Dalam hal ini perlu dicatat juga bahwa kita sering lebih mementingkan informasi tentang sifat-sifat yang negatif dari pada yang positif.

c. Stereotype. Bisa klik disini

2. Atribusi. bisa klik disini

Kesepian ( Psikologi sosial )

Kesepian 

Kesendirian tidak sama dengan kesepian :

  • Kesendirian (aloneness),  merupakan kondisi objektif, dapat diamati.
  • Kesepian (loneliness), merupakan pengalaman subjektif, tergantung interpretasi kita terhadap berbagai situasi. 

Elemen-elemen kesepian :

Definisi kesepian dapat bervariasi, namun pada dasarnya definisi-definisi yang ada menyentuh tiga elemen :
  1. Merupakan pengalaman subjektif 
  2. Secara umum merupakan hasil dari perasaan kekurangan dalam interaksi sosial 
  3. Dirasa tidak menyenangkan

Perasaan-perasaan pada orang yang kesepian :

Berdasarkan servei, Carin Rubenstein dan Phillip Shaver (1982) menemukan bahwa terdapat empat faktor umum perasaan yang muncul ketika orang berada dalam kesepian : 
  1. Putus asa, panik dan lemah.
  2. Depresi.
  3. Bosan, tidak sabar.
  4. Mengutuk diri sendiri.

Tipe-tipe kesepian :

Menurut Robert Weiss (1973), terdapat dua tipe kesepian : sosial dan emosional
  • Emotional Loneliness : kesepian yang disebabkan kurang dekat-intim-lekat dalam hubungan dengan seseorang.  Misalnya, kesepian yang dialami oleh mereka yang menduda/janda atau bercerai dengan pasangannya.
  • Social Loneliness : merupakan hasil dari ketiadaan teman dan famili atau jaringan sosial tempat berbagi minat dan aktivitas. 
Shaver dkk (1985) menegaskan perlunya membedakan kesepian dalam dua tipe yang lain : trait dan state
  • Trait Loneliness : merupakan pola perasaan kesepian yang stabil,  yang hanya sedikit berubah tergantung situasi. Pada umumnya orang yang memiliki harga diri (self-esteem) yang rendah lebih sering mengalami trait loneliness (Jones, Freemon, & Goswick, 1981; Peplau, Miceli, & Morasch, 1982).

  • State Loneliness : merupakan kesepian yang lebih temporer yang seringkali disebabkan oleh perubahan yang dramatis dalam kehidupan. Misalnya, seseorang yang baru saja pindah lokasi tempat tinggal, menjadi murid baru, dsb. Kesepian ini akan hilang bila telah ditemukan jaringan sosial yang baru (Shaver, Furman, & Buhrmeister, 1985).

Sebab-sebab kesepian :

Mengenai penyebab kesepian, tidak dapat diketahui dengan pasti karena untuk mengetahuinya diperlukan penelitian eksperimental yang tidak etis yang mencakup kondisi yang dirancang untuk membuat orang menjadi kesepian. Namun demikian, hasil penelitian korelasional menemukan bahwa :
  • Orang yang kesepian cenderung miskin dalam ketrampilan sosial (Horowitz & French, 1979) dan oleh orang lain dirasa  relatif kurang trampil dalam berbagai bidang sosial (Sloan & Sloano, 1984).
  • Orang yang kesepian juga cenderung lebih cemas akan ketrampilan sosialnya (Sloano & Koester, 1989).

Terdapat dua faktor umum yang berhubungan dengan penyebab kesepian tersebut di atas, yaitu harga diri yang rendah dan tidak adanya kehendak untuk menggunakan sumber-sumber dukungan sosial (Vaux, 1988). 

Reaksi terhadap rasa kesepian :

Reaksi terhadap kesepian sangat bervariasi, dapat berupa reaksi pasif atau aktif (Rubenstein & Shaver, 1982).
  • Reaksi pasif : menangis, tidur, makan, minum, menggunakan obat penenang, terus menerus menonton TV.
  • Reaksi aktif : melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas seperti menyalurkan hoby, belajar, berolah raga, ke bioskop, shopping sambil bersenang-senang, mengusahakan kontak sosial, menelpon, atau mengunjungi orang lain.

Perbedaan antara pria dan wanita :

Frekuensi kesepian antara pria dan wanita nampaknya  sama, namun wanita lebih mungkin mengakui dirinya kesepian daripada pria. Pria lebih banyak mengingkari kesepian yang dialaminya.  Salah satu alasan untuk hal tersebut adalah bahwa pria yang kesepian kurang dapat diterima dan lebih sering ditolak secara sosial (Borys & Perlman, 1985). Menurut stereotip jenis kelamin, pria dianggap kurang pantas mengekspresikan emosinya, dan pria yang menyatakan dirinya kesepian berarti menyimpang dari harapan tersebut.
 

Mengatasi kesepian :

Hal ini tergantung bagaimana atribusi masing-masing orang mengenai kesepiannya tersebut. Mereka yang menyalahkan kekurangan dirinya sebagai penyebab kesepian yang dialaminya, cenderung tetap tidak bahagia. Sedangkan orang yang melihat kesepiannya bersifat temporer, cenderung lebih berbahagia dan lebih berusaha melakukan tindakan korektif. Salah satu tindakan terbaik untuk mengatasi kesepian adalah dengan membangun relasi yang bermakna dengan teman-teman (Cutrona, 1982).
 

Alasan-alasan Untuk Berafiliasi

Kontak dengan orang lain seringkali merupakan pencegah kesepian. Tetapi apakah menghindari kesepian merupakan alasan  bagi kita untuk berafiliasi ?  Apa yang kita peroleh dari interaksi sosial ? Pada studi awal mengenai afiliasi, Stanley Schachter (1959) mengajukan empat kemungkinan jawaban untuk pertanyaan tersebut di atas, yaitu :
  1. Berada di sekitar orang lain secara langsung mengurangi kecemasan.
  2. Kehadiran orang lain dapat mengalihkan perhatian terhadap diri sendiri sehingga secara tidak langsung mengurangi kesepian.
  3. Reaksi orang lain dapat memberikan informasi tentang situasi, sehingga memberikan kejelasan terhadap pikiran-pikiran (kognisi) kita.
  4. Orang lain merupakan pembanding : kita dapat mengevaluasi diri kita sendiri berdasarkan perilaku orang lain.

Hasil eksperimen Schachter :

Berdasarkan serangkaian eksperimen yang dilakukannya,  Schachter menemukan dukungan yang kuat untuk dugaan pertama, yaitu bahwa berada di sekitar orang lain secara langsung mengurangi kecemasan. Dugaan-dugaan yang lain tidak didukung oleh hasil eksperimen.
 
Afiliasi dapat menurunkan kecemasan karena beberapa alasan :
  1. Kita seringkali mencari bantuan orang lain ketika menghadapi situasi yang mengancam.
  2. Informasi yang kita peroleh dari orang lain memungkinkan kita memperoleh kejelasan mengenai situasi yang menimbulkan kecemasan.
  3. Dukungan emosional dari orang-orang lain memungkinkan kita menguji respon-respon kita terhadap situasi yang menimbulkan stress.
Namun demikian tentu saja alasan orang untuk berafiliasi bukan hanya untuk mengurangi stress dan kecemasan. Orang berafiliasi  dengan orang lain kemungkinan karena menyukai orang lain tersebut, karena ingin berbagi minat (interes), untuk memperoleh dukungan dan mengembangkan identitas diri, dan sebagainya.
 
 
Pola-pola Afiliasi Dan Jaringan Sosial

Untuk memahami pola afiliasi, dapat dilihat dari hasil-hasil penelitian berikut ini :
 
Bibb Latane dan Liane Bidwell (1977), berdasarkan observasi terhadap mahasiswa di berbagai kampus di Ohio State dan Universitas North Carolina, menemukan bahwa sekitar 60% dari subjek yang diamati, terlihat bahwa masing-masing bersama orang lain, paling sedikit dengan satu orang yang lain. Yang menarik, wanita lebih banyak ditemukan bersama-sama dengan orang lain. Hal ini merupakan indikasi bahwa paling tidak di tempat umum, wanita lebih banyak berafiliasi daripada pria.
 
Ladd Wheeler dan John Nezlek (1977) yang meneliti pola afiliasi pada mahasiswa baru menemukan bahwa :
  • Pada umumnya (56%) afiliasi berkembang antar jenis kelamin yang sama.
  • Pada semester pertama, mahasiswa perempuan lebih banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman daripada mahasiswa laki-laki. Namun pada semester berikutnya, perbedaan ini sudah tidak nampak. Mengenai hal ini Wheeler & Nazek menyimpulkan bahwa mahasiswa perempuan mencari interaksi sosial sebagai cara untuk mengatasi stress pertama memasuki universitas.
Pola afiliasi berhubungan dengan jaringan sosial (social network). Jaringan sosial, yaitu dengan siapa seseorang menjalin kontak yang nyata (Berscheid, 1985). Berikut ini beberapa informasi mengenai jaringan sosial.
 
  • Orang yang berpindah lokasi tempat tinggal, mengalami perubahan jaringan sosial.
  • Pada mahasiswa, terdapat perbedaan jaringan sosial antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Misalnya, pada laki-laki, lebih banyak berteman dengan lawan jenis. Pada mahasiswa perempuan, interaksinya lebih sering, dan lebih banyak bertukar informasi dan dukungan emosional dengan teman. Namun demikian antara mahasiswa laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dalam berinteraksi dengan keluarga.
  • Penelitian dengan subjek bukan mahasiswa juga menemukan bahwa wanita, dibanding dengan pria,  memiliki kontak yang lebih sering dan lebih erat dengan teman-teman. Mengenai perbedaan jaringan sosial antara laki-laki dan perempuan ini, Ladd Wheeler, Harry Reis, dan John Nezlek (1983) memberikan alasan bahwa wanita lebih disosialisasikan untuk mengekspresikan emosinya daripada pria.

KRITERIA DIAGNOSTIK GENERALIZED ANXIETY DISORDERS

Untuk mendapatkan diagnosis Generalized Anxiety Disorder, seseorang harus mengalami tingkat kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, yang...