Kepastian (Filsafat)

KEPASTIAN

Kita memulai pembahasan kita dengan pertanyaan: apa itu kepastian? Apakah ada kepastian dalam ilmu pengetahuan? Untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas Verhaar dan Haryono (1989: 111) membedakan kepastian dan evidensi dalam kesatuan subyek-obyek. Menurut mereka, evidensi terletak pada obyek, sedangkan kepastian terletak pada subyek. Evidensi merupakan terang atau daya obyek yang menampakkan diri sebagai benar, sedangkan kepastian adalah keyakinan dalam diri subyek bahwa yang dikenalnya adalah betul-betul obyek yang ingin diketahuinya.  Selanjutnya Keraf dan Dua (2001: 77) menjelaskan dua pandangan atau teori yang akan menjawabi pertanyaan di atas, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran rasioanal-logis, dan pandangan kaum empiris yang menekankan kebenaran empiris. Pertama: menurut kaum rasionalis kepastian berkaitan dengan subyek. Mereka sangat yakin bahwa kebenaran sebagai keteguhan bersifat pasti, yaitu pasti benar. Karena kesimpulan yang mengandung kebenaran sebenarnya hanya merupakan konsekuensi logis dari pernyataan-pernyataan, teori atau hukum ilmiah lainnya. Karena itu sejauh pernyataan sebelumnya benar (proposisi-proposisi) kesimpulan tersebut dengan sendirinya pasti benar. Lalu, apakah ada kebenaran sementara dalam kebenaran rasional? Kaum rasional selalu menganggap tidak ada kepastian sementara, yang ada hanyalah kepastian, suatu keteguhan. Tapi bagaimana pun juga kesimpulan yang dianggap benar tetap bergantung pada kebenaran pernyataan, teori sebelumnya. Bisa saja ada sebagian teori yang salah, atau ada kemungkinan salah di dalamnya. Kedua, Kaum empiris tidak pernah bermaksud untuk menghasilkan suatu pengetahuan yang pasti benar tentang alam. Menurut kaum empirisis ilmu pengetahaun tidak sama dengan iman dalam agam. Iman dalam agama mengkleim diri sebagai suatu yang benar tidak diganggu gugat, sedangkan ilmu pengetahuan mengklaim diri lebih moderat. Bahwa kita tidak dapat memberikan yang psti tentang obyek penelitiannya, ilmu pengetahuan tidak pernah memberikan formulasi yang final dan absolut tentang seluruh universum. Pengakuan ini dalam filsafat ilmu pengetahuan disebut falibilisme: bersikap kritis terhadap apa yang telah dicapai. Jadi, boleh kita katakan bahwa kepastian empiris adalah kepastian sementara, kepastian yang masih terus diselidiki, masih terus dikritisi. Jadi menurut kaum empirisis bahwa cita-cita dasar ilmu pengetahuan adalah berusaha menemukan kebenaran dalam penemuan ilmiahnya. Tapi sikap terbuka dan terus mengeritik penemuan ini untuk terus diteliti merupakan suatu sikap ilmiah yang perlu dipupuk demi penemuan kebenaran yang pasti. Kita tidak mungkin sampai pada suatu kebenaran yang sepasti-pastinya, tapi ada perjuangan untuk mencapai kebenaran itu. 

Kebenaran (Filsafat)

KEBENARAN

Dalam bagian kedua ini kita akan berbicara mengenai kebenaran. Salah satu syarat penting dari suatu pengetahuan adalah kebenaran yang dikandungnya.

1. Teori kebenaran

Banyak orang mempertanyakan hakekat kebenaran dari setiap pengetahuan, apa itu kebenaran sesungguhnya. Ada berbagai macam teori tentang kebenaran. Dalam sejarah filsafat paling kurang ada empat teori besar yang berbicara mengenai kebenaran (Keraf cs. 2001: 65). Keempat teori itu antara lain: teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth), (b) teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth), (c) teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth), (d)teori permormatif tentang kebenaran (the performative theory of truth).

a. Teori kebenaran sebagai persesuaian

Teori ini muncul sudah sejak masa purba dalam pandangan Herakleitos, diteruskan oleh Aristoteles dan muncul dalam bentuk yang agak sedang dalam pandangan Thomas Aquinas, yang selanjutnya didukung oleh para ilmuan dan filsuf Inggris hingga masa pencerahan budi. Aristoteles melawan pemikiran Plato yang menganggap hal yang ada sebagai yang tidak ada dan hal yang tidak ada sebagai yang ada. Sebaliknya mengatakan yang benar adalah hal yang ada sebagai yang ada dan yang tidak ada sebagai yang tidak ada. Dengan pernyataan ini sebenarnya Aristoteles telah meletakkan dasar bagi teori kebenaran persesuaian yang mengatakan bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatu pernyataan dianggap benar kalau pernyataan itu dapat dibuktikan dalam kenyataan, atau kalau pernyataan itu ada dalam realitas hidup harian manusia atau ada dalam dunia nyata. Keberana adalah kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar atau salah ditentukan oleh kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Atau juga bisa kita katakan bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara subyek dan obyek, keseseuaian antara apa yang dikatakan subyek dan realitas yang ada pada obyek. Model kebenaran di atas dapat juga disebut kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan, preposisi dan teori ditentukan oleh fakta.  Contoh:  “Api itu panas” adalah pernyataan yang benar karena kenyataan membuktikan bahwa api itu panas. Demonstrasi mahasiswa yang berlangsung terus akhir-akhir ini didalangi pihak ketiga. Pernyataan ini benar kalau kenyataannya memang demikian. Jadi, apa yang diketahui subyek sebagai yang benar harus sesuai dan cocok dengan obyek. Inti teori ini bahwa suatu konsep, ide atau pun teori yang benar, harus mengungkapkan realitas yang sebenarnya. Dengan demikian, mengungkapkan realitas adalah pokok bagi kegiatan ilmiah. Teori ini mengungkapkan beberapa hal yang perlu kita angkat (Sony Keraf Cs. 2001: 67), (1) teori ini nampak sangat menekankan aliran empirisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan indrawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Karena itu pula sangat menghargai pengamatan, percobaan atau pengujian empiris guna mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Konsekuensinya bahwa teori  ini juga lebih mengutamakan cara kerja dan pengetahuan aposteriori yaitu pengetahuan yang hanya terungkap lewat pengalaman dan percobaan empiris. (2) teori ini juga cenderung menegaskan dualisme antara subyek dan obyek, antara sipengenal dan yang dikenal. Dengan titik tolak dualistis ini teori ini lalu menekankan pentingnya obyek bagi kebenaran pengetahuan manusia. Ekstrimnya teori ini berpendapat, yang paling berperan dalam menentukan kebenaran pengetahuan manusia adalah obyek, sedang subyek dalam hal ini akal budi hanya mengolah lebih jauh apa yang diberikan obyek. (3) teori ini sangat menekankan bukti (evidence) bagi kebenaran suatu pengetahuan. Dan bukti ini bukanlah apriori, konstruksi, dan hasil imajinasi akal budi, tapi diberikan dari obyek yang ditangkap lewat pancaindra manusia. Kebenaran akan terbukti dengan sendirinya kalau apa yang dinyatakan dalam proposisi sesuai atau ditunjang oleh kenyataan.

Persoalan yang muncul bahwa semua pernyataan atau proposisi yang tidak terbukti dengan fakta atau atayu yang tidak ditangkap dengan pancaindra tidak diterima sebagai kebenaran. Contohnya, adanya Tuhan, tidak dianggap sebagai suatu kebenaran, karena tidak ada bukti. Karena tidak ada bukti maka tidak dianggap sebagai suatu pengetahuan. Contoh lain, Indonesia adalah negara demokrasi, tidak dianggap sebagai kebenaran karena antara proposisi ini tidak diterima sebagai kebenaran karena tidak adanya fakta dalam sistem pemerintahan Indonesia. Dua contoh di atas hanya merupakan suatu keyakinan atau idiologi, karena suatu keyakinan tidak selamanya harus dibuktikan dalam kenyataan.  

b. Teori Kebenaran sebagai Keteguhan

Pandangan mengenai teori ini telah ada sejak zaman Yunani kuno, dalam pemikiran Pythagoras dan Parmenides, lalu   dirumuskan oleh kaum rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Hegel dan kelompok rasionalis lainnya. Menurut mereka, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisi, pernyataan atau hipotese dengan kenyataan, melainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Jadi suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi dan hipotesis dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi dan hipotesis lainnya, khususnya apabilah hipotesis itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar. Kaum rasionali menganggap bahwa tidak mungkin pengetahuan itu keluar dari pikiran manusia untuk berhadapan langsung dengan kenyatan untuk mengetahui apakah benar ataua tidak pengetahuan itu. Matematika dan ilmu pasti lainnya sangat menekankan teori kebenaran sebagai suatu keteguhan. Jadi, inti dari kebenaran menurut kaum rasionalis adalah bahwa proposisi yang satu berkaitan dan meneguhkan proposisi yang lain atau tidak. Contoh: Semua manusia pasti mati (proposisi I), Sokrates manusia (proposisi II), kalau demikian maka Sokrates pasti mati (Proposisi III). Kebenaran terletak pada proposisi III, dan merupakan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada, yaitu proposisi I: semua manusia pasti mati, dan proposisi II: Sokrates manusia. Di sini sesungguhnya kebenaran  sesungguh sudah terkandung dalam kebenaran I, karena itu kebenaran III tidak ditentukan oleh kenyataan Sokrates mati atau tidak. Contoh lain, “Lilin akan mencair kalau dimasukan ke dalam air yang mendidih”.  Pertanyaannya: mengapa dan bagaimana anda tahu? Kaum empiris akan menjawab: coba saja, dan buktikan apakah benar atau tidak. Kaum rasionalis akan menjawab, mudah saja, tidak perlu pembuktian empiris. Mari kita uraikan. Semua bahan parafin mencair pada suhu enam puluh derajat celsius (I), Lilin itu bahan Parafin (II), lilin pasti mencair kalau dimasukan dalam air yang mendidi (III).

Dari uraian di atas jelas bahwa (1) teori kebenaran sebagai keteguhan lebih menekankan kebenaran rasional-logis dan cara kerja duduktif. Dalam hal ini pengetahuan yang benar hanya dideksi atau diturunkan sebagai konsekuensi logis dari pernyataan-pernyataan lain yang sudah ada, dan yang sudah dianggap benar. Jadi kebenaran suatu pengetahuan sudah diandaikan secara apriori tanpa perlu dicek dengan kenyataan yang ada. Dengan demikian maka (2) teori kebenaran sebagai keteguhan lebih menekankan kebenaran dan pengetahuan apriori. Ini berarti validasinya bahwa apakah kesimpulan yang mengandung kebenaran tadi memang diperoleh secara sahih dari preposisi lain yang telah diterima sebagai benar.

Ada kesulitan  dan keberatan terhadap teori ini. Karena kebenaran suatu pernyataan didasarkan pada pernyataan lain, maka timbul pertanyaan: bagaimana dengan pernyataan lain itu? Atau bagaimana kebenaran proposisi I dn proposisi II?. Kebenarannya memang ditentukan berdasarkan fakta apakah pernyataan itu sesuai dengan pernyataan lainnya? Memang tidak bisa dibantah bahwa teori kebenaran sebagai keteguhan ini penting, dalam kenyataan teori ini perlu digabung dengan teori kebenaran sebagai kesesuaian dengan realitas. Dalam situasi tertentu kita memang tidak perlu mencek kebenaran pernyataan sesuai realitas sebaliknya mengandalkan kebenaran apriori, tapi dalam situasi lainnya kita tetap perlu merujuk pada realitas untuk bisa menguji kebenaran pernyataan tersebut.

Mari kita lihat perbedaan kebenaran empiris dengan kebenaran logis di bawah ini:

 

Kebenaran Empiris

Kebenaran Logis

Mementingkan obyek

Menghargai cara kerja induktif dan aposteriori

Lebih mengutamakan pengamatan indra

 

Mementingkan subyek

Menghargai cara kerja deduktif dan apriori

Lebih mengutamakan penalaran logis dari akal budi

c. Teori Pragmatisme tentang Kebenaran

Teori ini dikemukakan oleh para filsuf pragmatis Amerika seperti Charles Peirce dan William James. Menurut mereka kebenaran tidak dapat dilepaskan dari kegunaan. Benar sama dengan berguna. Suatu Ide atau konsep dikatakan benar kalau ide, konsep, pernyataan atau hipotesis itu berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan sesorang melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Di sini berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak. Contoh, kemacetan lalu lintas di jakarta disebabkan karena banyaknya kenderaan. Sebagai jalan keluar dilarang untuk mengendrai mobil sendirian di jalan-jalan terntentu. Hipotesis ini perlu diuji kebenarananya bahwa apakah berguna bagi masyarakat atau tidak larangan macam ini. Ternyata kemacetan tak dapat diatasi dengan cara itu, berarti tidak benar dan berguna hipostesis di atas. Peirce berpendapat bahwa ide yang jelas dan benar mempunyai konsekuensi praktis pada tindakan tertentu. Artinya kalau ide itu benar maka bila diterapkan akan berguna dan berhasil memecahkan suatu persoalan dan menentukan perilaku manusia. Sedangkan William James mengemukakan bahwa ide atau teori yang benar adalah ide atau teori yang berguna dan berfungsi untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dan kebutuhan manusia. Sebaliknya ide yang salah adalah ide yang tidak berguna atau tidak bisa berfungsi membantu manusia memenuhi kebutuhannya. Jadi menurut William James Ide atau teori yang benar adalah ide atau teori yang berguna, ide yang berhasil membantu manusia untuk bertindak. Di sini kebenaran sama dengan berguna. Kebenaran yang ditekankan kaum pragmatis ini adalah kebenaran yang menyangkut “know how” (pengetahuan bagaimana). Suatu ide yang benar adalah suatu ide yang memungkinkan saya memperbaiki atau menciptakan sesuatu. Menurut John Dewey, bila kita ingin melihat kebenaran suatu ide, atau teori maka kita perlu melihat bagaimana ide atau teori itu berlaku atau berfungsi dalam penggunaannya. Bagaimana ide atau teori tersebut membantu kita memecahkan berbagai persoalan hidup kita. Yang penting di sini bukan benar tidaknya suatu ide secara abstrak, melainkan bagaimana kita dapat memecahkan persoalan-persoalan praktis yang muncul dalam kehidupan kita dan kehidupan masyarakat pada umumnya. Dewey dan kaum pragmatis lainnya menekankan pentingnya ide yang benar bagi kegiatan ilmuah. Dewey sendiri mengalami bahwa penelitian ilmiah selalu diilhami oleh suatu keraguan awal, suatu ketidakpastian, suatu kesangsian akan sesuatu. Bahkan ia menggambarkannya dengan contoh seorang yang tersesat di sebuah hutan, kemudian menemukan sebuah jalan kecil, untuk keluar dari hutan itu dan menemukan pemukiman manusia. Kebenaran pragmatis mencakup pula kebenaran empiris, hanya saja kebenaran pragmatis bersifat lebih radikal, bukan sekedar sesuai realitas tetapi realitas dan kenyataan yang benar dan berguna bagi kepentingan manusia. Selanjutnya kebenaran empiris juga menyangkut suatu sifat yang baik. Suatu ide atau teori itu benar kalau baik memiliki nilai moral yang baik. Kebenaran merupakan sebuah nilai moral karena dengan kebenaran manusia sampai pada sesuatu. William James menolak kebenaran rasionalis yang hanya memberikan definisi-fefinisi yang abstrak tanpa punya relavansi praktis bagi kehidupan manusia.

 d. Teori kebenaran Performatif

Tokoh dan penganut aliran kebenaran ini adalah Frank Ramsy, John Austin, dan Peter Strawson. Para filsuf ini mau menantang teori klasik bahwa benar dan salah adalah ungkapan yang hanya menyatakan sesuatu (deskriptif). Anggap bahwa proposisi yang benar berarti proposisi itu menyatakan sesuatu yang memang benar dan sebaliknya, yang mau dilawan oleh para filsuf ini. Menurut mereka suatu teori dianggap benar kalau ia menciptakan realitas. Jadi, pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang menjelaskan realitas tetapi pernyataan yang menciptakan realitas, sesuai dengan apa yang diungkapkan dalam pernyataan atau ide itu. Contoh, dengan ini saya mengangkat kamu menjadi kepala desa. Pernyataan ini menciptakan suatu realitas baru, realitas menjadi kepala desa. Teori ini bisa dipakai secara positip maupun negatip. Positipnya bahwa dengan pernyataan tertentu orang berusaha  untuk mewujudkan apa yang dinyatakannya. Contoh: seorang suami: saya bersumpah akan menjadi seorang suami yang baik; saya ingin menjadi mahasiswa yang baik; dan seterusnya. Negatipnya, orang terlena dengan pernyataan dan ungkapan lalu lupa bertindak. Contoh: saya berdoa agar kamu berhasil; saya bersumpah akan setia. Ada banyak sumpah yang dilakukan banyak pejabat, tetapi kenyataan tidak sesuai dengan sumpah tersebut.

2. Sifat dasar kebenaran Ilmiah

Telah dikatakan sebelumnya bahwa kita membutuhkan baik kebenaran logis maupun kebenaran empiris dan bahkan kebenaran logis dan empiris yang dapat diterapkan dan berguna bagi kehidupan manusia. Sehingga dengan demikian dapat kita katakan bahwa kebenaran ilmiah paling kurang memiliki tiga sifat dasar yaitu, struktur rasional-ligis, isi empiris, dan dapat diterapkan atau pragmatis (Sony Keraf Cs. 2001: 75). (1) Struktur kebenaran yang rasional-logis yaitu, kebenaran ilmiah yang selalu dicapai berdasarkan kesimpulan yang logis dan rasional dari proposisi dan premis-premis yang benar pula. Proposisi yang menjadi kesimpulan dapat diperoleh melalu jalan deduksi atau induksi. Kesimpulan benar dalam deduksi berarti proposisi khusus atau lebih sempit tak terbantahkan yang diperoleh dari proposisi umum yang benar pula. Kesimpulan benar dalam induksi berarti suatu proses generalisasi yang mengungkapkan hubungan tertentu diantara berbagai fakta. Kesimpulan merupakan proposisi umum yang diperoleh dari premis-premis khusus dalam fakta. Kebenaran ilmiah bersifat rasional dapat dipahami oleh semua orang yang menggunakan akal budinya secara baik. Dan kebenaran ilmiah akhirnya diakui sebagai kebenaran yang universal. (2) Kebenaran ilmiah empiris adalah kebenaran ilmiah yang diuji dengan kenyataan yang ada. Para penganut aliran ini berpendapat bahwa bagaimanapun juga kebenaran ilmiah perlu diuji dalam kenyataan. Karena kebenaran berarti kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Di sini ada spekulasi dalam ilmu pengetahuan, tatapi tetap diuji dan dicek dalam kenyataan. (3) kebenaran pragmatis menggabungkan kedua kebenaran di atas. Dalam arti ini bahwa kalau suatu pernyataan dianggap benar secara rasional dan empiris, pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan masyarakat, yaitu berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi manusia. 

Sumber Pengetahuan (filsafat)

SUMBER PENGETAHUAN,
KEBENARAN DAN KEPASTIANNYA

 

I. SUMBER PENGETAHUAN

Pada umumnya para filsuf barat membedakan dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan yang diperoleh lewat daya indrawi dan pengetahuan yang diperoleh budi atau rasio. Pembagian ini tidak berarti keduanya berbeda secara seratus persen atau dapat dipisahkan secara total. Keduanya saling berhubungan, menunggal dan berjenjang. Selain itu para filsuf Timur memiliki tradisi pengetahuan sendiri yang perlu juga kita tambahkan di sini yakni pengetahuan lewat intuisi.

 

1. Pengetahuan Rasionalisme atau pengetahuan intelektif

Inti dari pandangan rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya yakno pengetahuan yang tidak mungkin salah ( Keraf, 2001 : 43). Menurut pandangan ini bahwa sumber satu-satunya pengetahuan adalah akal budi. Mereka menolak pandangan yang mengatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh lewat pengalaman indrawi.

Pengetahuan Rasionlisme disebut juga pengetahuan intelektif (Watloly, 2001: 144). Istilah intelektif diambil dari kata intelektual, yang berasal dari bahasa Latin: intelektus berarti “dalam pikiran” atau dalam akal. Dalam konteks ini pengetahuan intelektif berarti pengetahuan yang diperoleh dalam proses pikiran atau akal yang mendalam. Pengetahuan yang dicapai lewat rasio, atau intelegensi yang merupakan khas kemampuan manusia dibandingkan dengan makluk hidup lainnya. Selain istilah di atas, ada juga istilah inteligensi yang diambil dari kata latin intellectus dan kata kerja intellegere. Kata intellegere terdiri dari kata intus artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Dengan demikian kata intellegere berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam. Menjadi intelegen berarti mampu menangkap apa yang esensial dari suatu gejala, melihat apa yang hakiki dari kegiatan ini atau itu. Berikut ini kita akan melihat beberapa pandangan mengenai aliran rasionalisme.

 

a. Plato

Plato adalah seorang filsuf dan pengarang Yunani terkenal.  Ia lahir pada tahun 427 S.M. dan meninggal pada tahun 347 S.M.  Ia mendapat pendidikan biasa sebagai seorang remaja Atena.  Ia berasal dari keluarga baik-baik dibidang musik, sastra dan olahraga senam.  Ketika kurang lebih berusia 20 tahun, ia menjadi murid Socrates dan tinggal pada gurunya sampai ia berusia 28 tahun.  Setelah kematian Sokrates, Plato meninggalkan Atena untuk belajar bersama-sama dengan Euclid, dan bepergian secara ekstensif ke Mesir, Italia, dan Sisilia.  Segera setelah ia pulang, ia mendirikan akademinya yang termasyur di kebunnya sendiri di Atena, dan mengajar di situ selama 40 tahun dengan metode diskusi, dan percakapan.  Beberapa orang muridnya menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan terkenal dengan caranya sendiri-sendiri, termasuk Aristoteles, Demosthenes dan Lycurgus.  Karya-karya plato yang diterbitkan diantaranya Dialogues, The Republic, Lows, Phaedris, Symposium, Gorgias, dan Phaedo.  

Plato dianggap sebagai rasionalis pertama, karena rasionalisme muncul pertama kali dalam pemikiran-pemikiran Plato. Plato mengatakan bahwa satu-satunya pengetahuan dan tak berubah adalah episteme yaitu pengetahuan tunggal dan tak berubah sesuai dengan ide-ide abadi. Yang ditangkap dan diserap pancaindra hanyalah tiruan ide-ide abadi yang cacat, dan karena yang diserap pancaindra itu tiruan, tidak nyata dan tidak sempurna. Dunia fana merupakan bayangan dari ide yang abadi, dan bayangan itu banyak dan bermacam-macam. Bila manusia melihat bayangan itu, ia ingat akan ide abadi. Jadi, pengetahuan menurut Plato adalah hasil ingatan yang melekat erat pada manusia. Di sini Plato mendefinisikan pengetahuan sebagai pengenalan kembali akan hal-hal yang sudah diketahui dalam ide abadi, juga sebagai kumpulan ingatan terpendam dalam benak manusia. Jadi, untuk mengetahui sesuatu, untuk menyelidiki sesuatu dan untuk sampai pada pengetahuan sejati, kita cukup mengandalkan akal budi yang telah mengenal ide abadi. Selanjutnya plato ( Lavine, 1982: 36) mengatakan bahwa obyek dari pemahaman rasional atau intelek adalah adalah konsep-konsep kebenaran yang berlawanan dengan obyek kepercayaan. Ia juga membedakan antara obyek persepsi (pengindra) dan obyek pemahaman intelek yakni bahwa obyek pamahaman perseptif adalah hal-hal konkrit, particular, yang masih berubah, hal-hal yang selalu dalam proses menjadi. Sebaliknya obyek pemahaman intelek adalah hal-hal abstrak, konsep-konsep umum dan universal, hal-hal yang tak berubah, dan yang abadi.

 

b. Rene Descartes

Descartes adalah seorang ahli matematika, ahli ilmu faal, Filsuf berkebangsaan Perancis yang hidup dari tahun 1596 hingga 1650.   Descartes meneruskan sikap kaum skeptis dalam pandangannya mengenai pemahaman rasional. Ia setuju dan menganggap serius anggapan kaum skeptis bahwa kita perlu meragukan semua keyakinan kita, dan ia menganggap bahwa pandangan kaum skeptis adalah pandangan yang tepat. Sasaran utama pandangan Descartes adalah bagaimana supaya kita bisa sampai pada pengetahuan yang benar dan pasti. Menerut dia bahwa kita perlu meragukan segala sesuatu sebelum sampai pada ide yang jelas dan pasti. Kita perlu meragukan untuk sementara apa yang belum dilihat dengan terang akal budi sebagai sesuatu yang benar dan pasti. Kita perlu meragukan segala sesuatu sampai kita menemukan ide yang jelas dan tepat. Descartes menghendaki agar kita tetap meragukan untuk sementara waktu apa saja yang tidak bisa dilihat dengan terang akal budi sebagai yang pasti benar dan tidak diragukan lagi. Keraguan ini disebut sebagai keraguan metodis, yang berfungsi sebagai alat untuk menyingkirkan semua prasangka, tebakan dan dugaan yang menipu sehingga kita tidak sampai pada pengetahuan yang benar-benar punya dasar yang kuat. Selanjutnya Descartes mengatakan bahwa hanya akal budi yang membuktikan bahwa ada dasar untuk merasa pasti dan yakin akan apa yang diketahui. Descartes meragukan segala kebenaran yang diperoleh lewat pancaindra. Ia menganggap bahwa salah satu hal yang menipu dan mengahalangi kita untuk sampai pada pengetahuan sejati adalah pengalaman indrawi kita. Contoh: kita melihat botol yang berisi air putih sebagai botol kosong, benda-benda luar angkasa sebagai suatu benda kecil, bahkan jika kita sedang menulis buku pun diragukan, jangan-jangan itu sebagai mimpi belaka. Jangan-jangan ada setan jenius yang menipunya bahwa ada bumi, ada langit, ada obyek-obyek di luar dirinya, ada bentuk ada tempat dan seterusnya. Menurut Descartes semakin jelas suatu ide dalam akal budi, maka semakin ide tersebut sesuai dengan realitas. Bukan sebaliknya ide itu benar bila semakin sesuai dengan realitas. Descartes terkesan dengan metode deduksi akal budi dari matematika dan ilmu ukur yang mencapai kebenaran tak terbantahkan, dan tak bisa diragukan. Karena itu ia berpendapat bahwa untuk pada pengetahuan yang benar tak terbantahkan dan tak diragukan maka perlu mengandalkan kemampuan akal budi. Kita perlu meragukan pengetahaun yang diperoleh dengan pancaindra hanya hanya pengetahuan lewat akal budi yang bisa memberikan kita kepastian. Metode Descartes untuk mencapai kebenaran adalah meragukan segala pengetahuan lewat indra, sambil menyingkirkan yang diragukan kita terus mencari hingga menemukan pengetahuan yang benar dan tak bisa diragukan lagi. Keraguan itu penting supaya kita bisa sampai pada suatu pengetahuan yang benar, termasuk pengalaman kita masing-masing. Semua itu kita lakukan dengan akal budi, dengan berpikir. Diktum Descartes yang tekenal adalah Cogito Ergo sum, saya berpikir maka saya ada.  Berpikir merupakan kebenaran yang pasti dan tak terbantahkan yang sekaligus menjadi landasan  pemikiran dan pengetahuan manusia. Di sini Descartes menegaskan bahwa berpikir, akal budi adalah unsur pokok dari manusia sekaligus bagi pengetahuannya. Karena berpikir, akal budi adalah hal yang paling pokok bagi manusia, maka apa yang lolos dari seleksi akal budi manusia pasti benar tak terbantahkan.

 

c. kesimpulan

Ada beberapa hal penting perlu kita tentang rasionalisme. Pertama, kaum rasionalis lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika yang memiliki aksioma-aksioma umum lepas dari pengalaman pancaindra kita. Kita hanya dapat sampai pada pengetahuan yang benar tak terbantahkan dengan akal budi. Kedua, konsekuensinya kaum rasionalis mengabaikan sampai pada taraf meremehkan peran pengalaman dan pengamatan pancaindra bagi pengetahuan. Pengalaman Descartes bahwa indra bisa menipu kita seperti benda angkasa luar yang dianggap sebagai benda kecil, merupakan salah satu contoh di mana indra tak bisa diandalkan sebagai sumber pengetahuan yang benar. Ketiga, metode deduktif merupakan bentuk yang paling cocok bagi kaum rasionalis akibat dari mengandalkan ilmu ukur dan matematika sebagai dasar kebenaran semua pengetahuan. Akibat lebih lanjut bahwa pengetahuan manusia itu bersifat partikular dan umum

 

2. Pengetahuan Indrawi atau pengetahuan eksperimental

a. Hakekat pengetahuan Indrawi

Alexisi Carrel, menyetujui kebenaran bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia diperoleh lewat kemampuan indranya, namun selalu bersifat rasional. Kemampuan itu diperoleh manusia sebagai makluk biotik, namun tidak semua makluk biotik karena pohon tidak memilikinya. Daya indra menghubungkan manusia dengan hal-hal konkrit-material. Pengetahuan indra tersebut bersifat parsial, karena adanya perbedaan antar indra yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan indrawi itu berbeda-beda menurut perbedaan indra dan keterbatasan organ-organ indra tersebut. Contoh. Orang yang telinganya terganggu, matanya minus, penciuman yang kurang tajam dll. Pengetahuan indrawi hanya terletak pada permukaan kenyataan karena terbatas pada hal-hal indrawi scara individual.

John Locke (1632-1704) adalah seorang filsuf Inggris yang sangat terkenal dalam filsafat politik. Yang ingin kita lihat di sini adalah pendapatnya tentang filsafat pengetahuan. Yang menarik untuk diketahui dalam filsafat pengetahuan John Locke (Magnis-Suseno, 1992: 73) yaitu anggapan bahwa seluruh pengetahuan kita berasal dari pengalaman. Locke menolak kaum rasionalis yang mengatakan bahwa manusia lahir dengan ide-ide bawaan, dengan prinsip-prinsip pertama yang mutlak  dan umum. Menurut dia manusia dilahirkan ke bumi seperti sebuah kertas putih kosong, tanpa ada ide atau konsep apapun. Jiwa manusia seperti tabuka rasa. Locke mengatakan bahwa semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia sesungguhnya berasal dari pengalaman manusia dan pengelaman itu diperoleh dari pancaindra atau refleksi atas apa yang diberikan pancaindra. Ia menambahkan bahwa akal budi kita hanya bisa mengetahui sesuatu karena mendapat informasi dari pancaindra, akal budi kita mirip dengan kerta putih yang belum ditulis apa-apa. Selanjutnya Locke membedakan antara dua macam ide yaitu, ide-ide sederhana dan ide-ide kompleks. Ide sederhana adalah ide yang ditangkap melalui pancaindra ( penciuman, penglihatan, rabaan, dll). Pada waktu indra kita menangkap sesuatu obyek secara langsung dan spontan, muncullah ide-ide sederhana tentang obyek tersebut, seperti manis, pahit, besar, kecil, kasar, halus. Akal budi kita tidak menerima secara pasif ide-ide itu dari luar. Ia mulai mengolah ide-ide itu dengan memikirkan, meragukan, mempertanyakan, menggolongkan, dan mengolah apa yang diberikan pancaindra, sehingga dengan demikian lahirlah suatu reflseksi. Refleksi-refleksi inilah yang memungkinkan adanya ide-ide kompleks. Locke juga membedakan antara sifat atau kualitas primer dan sifat atau kualitas sekunder dari obyek di sekitar kita. Kualitas primer itu menyangkut berat, gerak, luas dan jumlah. Sedangkan kualitas sekunder menyangkut rasa, warna, panas, dingin dan semacamnya. Kualitas sekunder ini hanya mereproduksi sifat luar dari obyek saja. Karena itu kualitas sekunder tidak bisa sampai pada pengetahuan yang pasti, sebaliknya kualitas primer yang ditangkap pancaindra dapat membawa kita pada pengetahuan yang pasti, tak bisa diragukan dan bersifat universal. Kualitas sekunder itu menghasilkan pendapat yang berbeda-beda, tetapi yang berhubungan dengan kualitas primer, semua orang akan memberikan pendapat yang sama. Locke menambahkan bahwa ide muncul karena akal budi melalui pencaindra menangkap suatu obyek, sebaliknya kualitas muncul karena obyek memproduksi dalam diri kita ide tertentu.

David Hume (1711-1776) juga salah satu tokoh empirisme yang mengatakan bahwa semua materi pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi, namun ada sedikit perbedaan antara Hume dan Locke. Menurut Hume, pemahaman manusia dipengaruhi oleh sejumlah kepastian dasar tertentu mengenai dunia eksternal, masa depar, dan sebab, dan bahwa kepastian-kepastian ini merupakanb bagian dari nalauri alamaiah manusia, yang tidak dapat dihasilkan atau dicegah oleh akal budi manusia. Jadi melalui naluriah alamiah manusia, manusia dapat sampai pada kepastian-kepastian yang mememungkinkan pengetahuan manusia. Hume membedakan dua proses mental yaitu, pertama: kesan (impresi) yang adalah pencerapan pancaindra yang lebih hidup dan langsung sifatnya. Yang kedua adalah ide yang kurang hidup yang kurang langsung sifatnya. Dar impresi muncul ide-ide sederhana berkaitan dengan obyek yang kita tangkap secara langsung dengan pancaindra. Lalu dari ide sederhana itu akal budi manusia dapat melahirkan ide-ide majemuk tentang hal-hal yang tidak ditangkap pancaindra kita. Ide-ide majemuk diatas terlepas satu sama lain, tapi akan diolah lebih lanjut oleh akal budi manusia sehingga melahirkan keterkaitan satu sama lain. Keterkaitan itu dicapai lewat suatu prinsip yang disebut Hume sebagai  hokum asosiasi. Hukum asosiasi ini terdiri dari tiga prinsip: (1) prinsip kemiripan: ide tentang suatu obyek cenderung melahirkan dalam akal budi kita obyek lainnya yang serupa atau mirip. Dengan prinsip ini kita mampu membuat klasifikasi: ide yang serupa atau murip dikelompokkan menjadi satu. (2) prinsip kontinuitas dalam tempat dan waktu: kecenderungan akal budi untuk mengingat hal lain yang punya kaitan dengan hal atau peristiwa lainnya. Ingat PKI ingat Aidit, G 30 S, Soeharto. (3) Prinsip sebab-akibat: Ide yang satu memunculkan yang lain, ide yang satu menjadi sebab atau akibat dari ide lain. Di sini Hume mau mengatakan bahwa walaupun akal budi tidak memiliki ide bawaan tetapi ada kecenderungan bawaan untuk mengolah data-data yang diberikan pancaindra sesuai dengan ketiga prinsip di atas. Kecenderungan bawaan inilah yang memungkinkan kita untuk berpikir dan menalar, mengumpulkan ide-ide menjadi pemikiran atau proposisi. Hume juga menambahkan bahwa semua obyek akal budi manusia dibagi menjadi dua yaitu relasi ide-ide dan kenyataan. Yang termasuk dalam relasi ide-ide adalah ilmu ukur dan matematika atau ilmu pasti. Obyek-obyek ini diketahui secara intuitif dan demonstratif. Contoh: 3 x 5 = 15. Ini pasti cukup dengan akal budi, dan tidak perlu dibuat eksperimen atau melihat kenyataan. Kenyataan: adalah obyek kedua dari akal budi manusia, sulit dipastikan kebenarannya karena hal yang sebaliknya sangat mungkin terjadi.

 

b. Kebenaran dan ciri pandangan kaum empiris (Pengindra)

Stelah melihat ketiga pandangan di atas, maka kita dapat bertanya: apakah ada kebenaran dan kepastian di dalam pengetahuan indrawi? Apakah cirri pandangan kaum empiris? Ada beberapa catatan sekaligus kesimpulan tentang kebenaran dan cirri pandangan empiris: (1) persepsi atau proses pengindraan sampai pada tahap tertentu tidak dapat diragukan, bebas dari kemungkinan salah, karena kemungkinan salah tidak ada tempatnya pada apa yang disebut given, atau yang menurut Watloly (2001: 53) disebut kebenaran in itself atau kebenaran an sich: ada kesesuaian antara kesan-kesan dan kenyataan. Menurut Hume bahwa persepsi tak dapat diragukan. Yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap dan memutuskan apa yang ditangkap pancaindra. Tidak ada keraguan tentang kebenaran lewat pancaindra, bahkan ekstrim bahwa satu-satunya kebenaran adalah lewat pengalaman. (2)  Pandangan Hume memperlihatkan bahwa empirisme hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan empiris, yaitu pengetahuan ttg dunia yang berkaitan dengan pengalaman manusia. Empirisme mengakui bahwa ada pengetahuan yang tidak diperoleh lewat pengalaman indrawi. (3) karena kaum empirisme lebih menekankan pengalaman, maka empirisme lebih menekankan metode induktif, yaitu cara kerja ilmu yang mendasarkan diri pada pengamatan, pada eksperimen untuk sampai pada pengetahuan yang umum tak terbantahkan. Oleh karena itu pengetahuan yang ditekankan adalah pengetahuan aposteriori.

 

3. Intuisi

Sumber pengetahuan lewat intuisi sangat kuat muncul dalam filsafat Timur baik filsafat Cina maupun dalam Budhisme India. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Menurut para filsuf Timur (Watloly, 2001: 45) pusat kepribadian manusia bukanlah inteleknya tetapi hatinya yang mempersatukan akal budi dan intuisi, inteligensi dan perasaan. Hati memiliki pertimbangan tersendiri, yang tak dapat diketahui akal budi karena berada di luar jangkauan rasional. Menurut mereka ada hal-hal yang perlu dibicarakan, tapi ada pula hal-hal yang hanya dapat dihargai dengan hati, karena makin banyak kata-kata (dibicarakan) makin jauhlah kita dari artinya dan kebenarannya. Pandangan Jainisme India (Watloly, 2001: 50)  mengatakan bahwa intuisi adalah tahap pengetahuan manusia yang paling sempurna, yang hanya bisa dirasakan dan dimiliki oleh orang yang jiwanya sudah mendapat kelepasan. Jenis pengetahuan langsung ini lebih luas dari pengetahuan indrawi, sebab ia dapat menembus segala seluk-beluk yang diketahuinya. Pengetahuan ini diperoleh secara langsung tanpa bantuan dari luar, terjadi dalam suatu kejernian batin yang murni, dan dapat mengetahui hal yang belum terjadi atau hal yang telah terjadi di tempat yang jauh. Budhisme India mengemukakan juga bahwa untuk sampai pada pengetahuan intuitif langsung maka orang perlu menghindari unsur suka atau tidak suka, karena pengetahuan intuitif langsung yang tidak dirintangi unsur suka atau tidak suka akan melengkapi seseorang dengan pengertian yang mendalam tentang keadaan yang sebenarnya dari segala sesuatu. Pada tingkat yang biasa intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan (Jujun Suryasumantri, 2001: 52). Intuisi tidak bisa diandalkan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, tapi boleh digunakan sebagai hipotesis dalam analasis selanjutnya untuk menentukan kebenarannya. Pengetahuan intuitif itu memang ada pada orang-orang given dan dapat di sandingkan dengan pengetahuan analitik untuk menemukan kebenaran. 

Foundations of Individual Behavior

Biographical Characteristics

Personal characteristics—such as age, gender, and marital status—that are objective and easily obtained from personnel records.

Ability, Intellect, and Intelligence

  • Ability. An individual’s capacity to perform the various tasks in a job.
  • Intellectual Ability. The capacity to do mental activities.
  • Multiple Intelligences. Intelligence contains four subparts: cognitive, social, emotional, and cultural.

Dimensions of Intellectual Ability

  • Number aptitude
  • Verbal comprehension
  • Perceptual speed
  • Inductive reasoning
  • Deductive reasoning
  • Spatial visualization
  • Memory

Physical Abilities

Physical Abilities
The capacity to do tasks demanding stamina, dexterity, strength, and similar characteristics.

Nine Physical Abilities

Strength Factors
1. Dynamic strength
2. Trunk strength
3. Static strength
4. Explosive strength

Flexibility Factors
5. Extent flexibility
6. Dynamic flexibility

Other Factors
7. Body coordination
8. Balance
9. Stamina

The Ability - Job fit
Employee's Abilities --> Abilty - Job Fit <-- Job's Ability Requirements

Learning
Any relatively permanent change in behavior that occurs as a result of experience.
Learning:
- Involves change
- Is relatively permanent
- Is acquired through experience

Classical Conditioning
A type of conditioning in which an individual responds to some stimulus that would not ordinarily produce such a response.
Key Concepts :
- Unconditioned stimulus
- Unconditioned response
- Conditioned stimulus
- Conditioned response


Theories of Learning
Operant Conditioning
A type of conditioning in which desired voluntary behavior leads to a reward or prevents a punishment.
Key Concepts :
- Reflexive (unlearned) behavior
- Conditioned (learned) behavior
- Reinforcement

Social-Learning Theory
People can learn through observation and direct experience.
Key Concepts
- Attentional processes
- Retention processes
- Motor reproduction processes
- Reinforcement processes

Shaping Behavior
Systematically reinforcing each successive step that moves an individual closer to the desired response.
Key Concepts
- Reinforcement is required to change behavior.
- Some rewards are more effective than others.
- The timing of reinforcement affects learning speed and permanence.

Types of Reinforcement

- Positive reinforcement
Providing a reward for a desired behavior.
- Negative reinforcement
Removing an unpleasant consequence when the desired behavior occurs.
- Punishment
Applying an undesirable condition to eliminate an undesirable behavior.
- Extinction
Withholding reinforcement of a behavior to cause its cessation.

Schedules of Reinforcement

- Continuous Reinforcement
A desired behavior is reinforced each time it is demonstrated.
- Intermittent Reinforcement
A desired behavior is reinforced often enough to make the behavior worth repeating but not every time it is demonstrated.
- Fixed-Interval Schedule
Rewards are spaced at uniform time intervals.
- Variable-Interval Schedule
Rewards are initiated after a fixed or constant number of responses.


Intermittent Schedules of Reinforcement


Behavior Modification

The application of reinforcement concepts to individuals in the work setting.
Five Step Problem-Solving Model
1. Identify critical behaviors
2. Develop baseline data
3. Identify behavioral consequences
4. Develop and apply intervention
5. Evaluate performance improvement

Application
- Well Pay versus Sick Pay
Reduces absenteeism by rewarding attendance, not absence.
- Employee Discipline
The use of punishment can be counter-productive.
- Developing Training Programs
OB MOD methods improve training effectiveness.
- Self-management
Reduces the need for external management control.

(Robbins, 2005)








Adversarial Decision Making

 








































Regresi Linear (Statistik)

Regresi linear adalah alat statistik yang dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu atau beberapa variabel terhadap satu buah variabel. Variabel yang mempengaruhi sering disebut variabel bebas, variabel independen atau variabel penjelas

Analisis regresi dipergunakan untuk menelaah hubungan antara dua variabel atau lebih, terutama untuk menelusuri pola hubungan yang modelnya belum diketahui dengan baik, atau untuk mengetahui bagaimana variasi dari beberapa variabel independen mempengaruhi variabel dependen dalam suatu fenomena yang komplek

Jika variabel bebas lebih dari satu, maka analisis regresi disebut regresi linear berganda. Disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas (independen) akan dikenakan kepada variabel tergantung (dependen).
Tujuan : Menguji hipotesis karakteristik dependensi

Bila ingin mengetahui bentuk hubungan dua variabel atau lebih, digunakan analisis regresi. Bila ingin melihat keeratan hubungan, digunakan analisis korelasi
Biasanya judul pada sebuah penelitian korelasi “Hubungan”, dan regresi misalnya “Pengaruh” atau “Peranan”

Penentuan sample dalam penelitian ini adalah Random sampling karena sudah diketahui jumlah populasi yang ada, Digunakan bilamana populasinya homogen, Setiap anggota populasi mempunyai kesempatan sama untuk terpilih.

Data yang diperlukan adalah data primer diperoleh melalui kuisioner yang telah diisi oleh responden dengan memilih jawaban yang telah disediakan sesuai persepsinya (pertanyaan tertutup).

- Variabel Independen: Kepemimpinan dan Tuntutan Tugas

- Variabel Dependen : Stress Kerja, Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi

- Variabel Moderate,  adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara satu 
variabel dengan variabel lain : Motivasi

Skala likert, Skala yang terdiri dari pernyataan dan disertai jawaban setuju-tidak setuju, sering-tidak pernah, cepat-lambat, baik-buruk dsb. (tergantung dari tujuan pengukuran). Disini Ingin membandingkan skor subyek dengan kelompok normatifnya.

Structural Equation Modelling (SEM) merupakan salah satu analisis multivariate yang dapat menganalisis hubungan variabel secara kompleks. Analisis ini pada umumnya digunakan untuk penelitian-penelitian yang menggunakan banyak variabel.

Uji Goodness of Fit adalah uji hipotesis yang dilakukan untuk mengetahui apakah data hasil observasi berasal dari populasi yang mempunyai distribusi tertentu, distribusi multinominal dan distribusi normal 


KRITERIA DIAGNOSTIK GENERALIZED ANXIETY DISORDERS

Untuk mendapatkan diagnosis Generalized Anxiety Disorder, seseorang harus mengalami tingkat kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, yang...