Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

APA ITU PTSD?

Beranjak ke salah satu gangguan kecemasan yang paling dikenal, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang, untungnya, telah mendapatkan banyak perhatian dari media dan karya fiksi selama bertahun-tahun. Dan meskipun saya jarang mengatakan hal ini, dalam kasus PTSD, hal tersebut justru merupakan sesuatu yang baik.

Terutama karena PTSD sering dikaitkan dengan tentara, dan di Amerika Serikat terdapat pengabdian yang sangat kuat terhadap para prajurit laki-laki dan perempuan. Pengabdian ini kemudian tercermin dalam film dan program televisi. Akibatnya, dibandingkan dengan kondisi lain seperti psikosis, depresi, dan skizofrenia, PTSD digambarkan dengan relatif lebih akurat. Hal ini sangat membantu masyarakat untuk memiliki pemahaman yang baik tentang apa itu PTSD.

Oleh karena itu, karena PTSD melibatkan pikiran dan ingatan yang intrusif, pengalaman ini sangat memicu kecemasan bagi orang yang mengalaminya. Inilah alasan mengapa kondisi ini perlu dibahas dalam buku ini. Selain itu, meskipun terdapat bukti bahwa PTSD juga dapat dipandang sebagai suatu mekanisme penyembuhan—di mana pikiran mencoba membuat seseorang menghadapi masa lalunya, untuk memudahkan penjelasan—hal ini tetap merupakan pengalaman yang sangat menimbulkan kecemasan.

KRITERIA DIAGNOSIS PTSD (KRITERIA A)
Sebagai akibatnya, agar seseorang dapat didiagnosis PTSD, mereka harus memenuhi Kriteria A, yang berarti mereka harus mengalami salah satu dari hal berikut. Seseorang harus terpapar pada:
kematian atau ancaman kematian,
kekerasan seksual aktual atau yang terancam,
cedera serius aktual atau yang terancam,
dengan salah satu cara berikut:
Mengalami langsung peristiwa tersebut.
Menyaksikan peristiwa tersebut terjadi pada orang lain secara langsung (bukan melalui media atau secara daring).

Mengalami paparan berulang atau paparan ekstrem terhadap detail-detail yang sangat tidak menyenangkan dari peristiwa traumatis.
Poin terakhir ini sangat krusial dalam memahami bagaimana para profesional dapat mengalami PTSD. Misalnya, jika Anda adalah seorang polisi, pekerja kesehatan mental, atau seseorang yang bekerja dengan korban kekerasan seksual pada anak, maka mendengar sisi terburuk dari kemanusiaan setiap hari sepanjang kehidupan kerja Anda pasti akan memberikan dampak tertentu. Inilah alasan mengapa beberapa profesional dapat mengalami PTSD meskipun mereka tidak mengalami trauma tersebut secara langsung.

GEJALA INTRUSIF (KRITERIA B)
Selain itu, seorang klien harus menunjukkan satu atau lebih dari gejala intrusif berikut untuk dapat didiagnosis PTSD. Perlu dicatat bahwa gejala-gejala ini harus berkaitan langsung dengan peristiwa traumatis tersebut. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa gejala tersebut tidak disebabkan oleh gangguan mental lain.

Gejala-gejala tersebut meliputi:
Mengalami mimpi yang berulang dan menyedihkan tentang peristiwa traumatis.
Mengalami ingatan intrusif dan tidak disengaja yang berulang terkait dengan peristiwa tersebut.
Mengalami reaksi disosiatif, seperti kilas balik (flashback), yang membuat individu merasa atau bereaksi seolah-olah peristiwa tersebut sedang terjadi kembali.

Sebagai contoh, seorang tentara mungkin bereaksi seakan-akan sedang ditembaki musuh, padahal ia hanya sedang berjalan masuk ke sebuah supermarket.
Mengalami periode stres psikologis yang berkepanjangan atau sangat intens ketika terpapar pada isyarat internal atau eksternal yang melambangkan atau mengingatkan pada aspek dari peristiwa traumatis.
Mengalami reaksi fisiologis yang jelas terhadap isyarat-isyarat tersebut.
Inilah sebabnya mengapa suara keras tertentu yang menyerupai tembakan dapat menjadi pemicu yang sangat kuat bagi para tentara.

PERILAKU MENGHINDAR (KRITERIA C)
Selanjutnya, untuk Kriteria C, seseorang perlu menunjukkan bahwa mereka secara terus-menerus menghindari stimulus yang berkaitan dengan peristiwa traumatis. Hal ini dapat dibuktikan dengan:
menghindari atau berusaha menghindari ingatan, perasaan, atau pikiran yang menyedihkan terkait dengan trauma, dan/atau
menghindari atau berusaha menghindari pengingat eksternal yang memicu ingatan, pikiran, atau perasaan menyedihkan terkait trauma tersebut.

Sebagai contoh, penderita PTSD mungkin menghindari pergi ke tempat-tempat ramai karena keramaian tersebut mengingatkan mereka pada jalanan padat di Afghanistan tempat terjadinya serangan bom bunuh diri.
PERUBAHAN NEGATIF DALAM KOGNISI DAN MOOD (KRITERIA D)
Lebih lanjut, dalam Kriteria D PTSD, individu harus mengalami perubahan negatif dalam proses berpikir dan suasana hati yang berkaitan dengan trauma, dengan menunjukkan minimal dua dari gejala berikut:
Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari trauma (sering disebut sebagai memblokir ingatan).

Keyakinan negatif yang berlebihan dan menetap tentang diri sendiri, orang lain, atau dunia.
Bagi siapa pun yang familiar dengan Gangguan Depresi Mayor, hal ini mungkin terdengar familiar karena berkaitan dengan Cognitive Triad. Inilah alasan mengapa gangguan mental lain perlu disingkirkan, karena seseorang bisa saja mengalami depresi atau PTSD. Oleh karena itu, seluruh kriteria harus terpenuhi.
Penurunan minat atau partisipasi yang signifikan dalam aktivitas.
Perasaan terasing atau terputus dari orang lain.
Masalah yang menetap dalam merasakan emosi positif.

Proses kognitif yang terdistorsi secara menetap terkait penyebab dan/atau konsekuensi dari peristiwa traumatis, yang menyebabkan individu menyalahkan diri sendiri atau orang lain.
Keadaan emosi negatif yang menetap, seperti rasa malu, ngeri, takut, atau marah.
Sekali lagi, banyak dari gejala ini terdengar mirip dengan depresi.

PERUBAHAN AROUSAL DAN REAKTIVITAS (KRITERIA E)
Menjelang akhir, kita mengetahui bahwa PTSD menyebabkan perubahan besar dalam cara seseorang bereaksi terhadap situasi dan rangsangan. Oleh karena itu, dalam proses diagnosis, hal ini harus ditemukan melalui bukti bahwa seseorang mengalami minimal dua dari gejala berikut:
Perilaku ceroboh atau merusak diri.
Ledakan amarah dan perilaku mudah tersinggung.
Kewaspadaan berlebihan (hypervigilance).
Kesulitan berkonsentrasi.
Gangguan tidur.
Respons kaget yang berlebihan.
Hal penting yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa dua gejala diperlukan. Hal ini sangat penting untuk dipahami. Perdebatan mengenai batas klinis dapat dibahas di lain waktu, namun jika hanya satu atau dua perilaku muncul tanpa adanya pola gejala lain, maka hal tersebut belum tentu merupakan masalah besar.

Sebagai contoh, semua orang mengalami gangguan tidur dari waktu ke waktu, semua orang terkadang mudah terkejut, dan semua orang sesekali mengalami ledakan amarah. Hal-hal ini bisa terjadi dalam periode tertentu dan masih dianggap normal. Namun, ketika semua gejala tersebut muncul bersamaan dan berlangsung dalam jangka waktu yang relatif sama, maka di situlah kita mulai mempertimbangkan adanya gangguan kesehatan mental.
Inilah alasan mengapa DSM-5 menetapkan kriteria yang ketat mengenai jumlah gejala yang harus ada.

KRITERIA TAMBAHAN
Terakhir, kriteria lain yang harus dipenuhi adalah:
gangguan berlangsung lebih dari satu bulan,
menimbulkan distres klinis yang signifikan atau gangguan fungsi,
serta tidak dapat dijelaskan oleh Acute Stress Disorder, kondisi medis lain, atau penggunaan zat.

ACUTE STRESS DISORDER
Sebagai penutup, penting untuk menyebutkan Acute Stress Disorder (ASD) karena kriteria diagnostiknya mirip dengan PTSD, terutama dalam hal paparan trauma (Kriteria A).
Gejala ASD:
muncul dalam rentang 3 hari hingga 1 bulan setelah peristiwa traumatis,
berlangsung minimal 3 hari dan maksimal 1 bulan.
Dengan kata lain, ini adalah kondisi kesehatan mental yang serius dan persisten, mirip dengan PTSD, tetapi dengan durasi yang lebih singkat.
Namun, sangat mungkin seseorang didiagnosis dengan Acute Stress Disorder padahal sebenarnya mereka sudah mengalami PTSD. Hal ini bisa terjadi akibat salah diagnosis, kesalahan dalam memperkirakan durasi gejala, atau karena individu tersebut tidak menyadari bahwa gejalanya masih terus berlangsung.

Gangguan Kecemasan Sosial ( Social Anxiety Disorder )

Ini adalah salah satu gangguan kecemasan yang paling dikenal. Gangguan kecemasan sosial didefinisikan sebagai rasa takut atau cemas yang tinggi terhadap satu atau lebih situasi sosial, di mana seseorang merasa dirinya sedang diperhatikan atau dinilai oleh orang lain.

Rasa takut ini muncul karena individu khawatir akan bertindak dengan cara tertentu atau menunjukkan gejala kecemasannya, sehingga orang lain akan menilai dirinya secara negatif. Dengan kata lain, ia takut dipermalukan, merasa malu, atau ditolak oleh orang lain.

Hal yang cukup mengejutkan adalah gangguan kecemasan sosial tidak selalu sama pada setiap orang. Ada orang yang baik-baik saja saat di pesta, tetapi sangat cemas ketika harus berbicara di depan umum, berbicara di kelas, atau bahkan berbicara sama sekali. Intinya, kecemasan bisa dipicu oleh satu jenis situasi sosial saja, atau hampir semua situasi sosial—tergantung pada individunya.

Gangguan ini memengaruhi pria dan wanita secara seimbang, dan biasanya mulai muncul sejak masa kanak-kanak atau remaja (Robins & Regier, 1991).

Untuk mendapatkan diagnosis, seseorang harus memenuhi kriteria tertentu. Salah satunya adalah mengalami rasa takut atau cemas yang tinggi terhadap satu atau lebih situasi sosial di mana ia mungkin diperhatikan oleh orang lain.

DSM-5 ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Edisi ke-5) memberikan contoh seperti berinteraksi sosial (bertemu orang baru, berbincang), tampil di depan orang lain (public speaking), atau sedang diamati (makan atau minum di depan umum).
Selain itu, tingkat kecemasan tersebut harus tidak sebanding dengan ancaman nyata dari situasi sosial tersebut dan konteks budaya yang ada.
Situasi sosial tersebut hampir selalu memicu rasa takut atau cemas. 

Akibatnya, individu akan menghindari situasi tersebut, atau jika terpaksa menghadapinya, ia menjalaninya dengan kecemasan atau ketakutan yang sangat intens.

Dan sesuai kriteria DSM-5, ketakutan, kecemasan, atau penghindaran ini harus berlangsung selama minimal 6 bulan, serta menyebabkan gangguan nyata dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

Gangguan Kecemasan, serangan panik, Agorafobia

Panic disorder bukan sekadar cemas biasa.
Pernah nggak…
tiba-tiba jantung kamu berdebar kencang?
Dada terasa sakit,
napas sesak,
dan muncul rasa takut yang luar biasa?
Padahal kamu nggak sedang kenapa-kenapa.

Kalau itu pernah terjadi,
bisa jadi itu serangan panik.
Pada panic disorder,
serangan panik datang tiba-tiba,
tanpa alasan yang jelas.
Bukan karena keramaian.
Bukan karena situasi tertentu.
Bahkan bisa terjadi saat kamu sedang santai.
Ada orang yang hanya panik di situasi tertentu.
Tapi pada panic disorder,
panik bisa muncul kapan saja 
dan di mana saja.

Dalam psikologi, kondisi ini dibagi menjadi tiga:
panic disorder tanpa agorafobia,
panic disorder dengan agorafobia,
dan agorafobia tanpa riwayat panic disorder.
Lalu, apa itu agorafobia?

Agorafobia adalah bentuk gangguan kecemasan yang muncul ketika seseorang
berada dalam situasi di mana melarikan diri
terasa sulit atau memalukan, atau ketika
bantuan dianggap tidak tersedia jika terjadi
serangan panik atau gejala mirip panik.

Sebagai contoh, agorafobia dapat muncul
ketika seseorang berada jauh dari rumah,
karena ia merasa tidak tahu harus meminta
bantuan kepada siapa. Hal yang sama juga
dapat terjadi saat bepergian, berada di
keramaian, atau di tempat-tempat yang sulit
untuk segera keluar.
Kalau ini terasa seperti kamu,
kamu tidak lebay.
Kamu hanya sedang butuh dipahami.

Jangan Menyerah Perjalanan Masih Panjang

Kesuksesan bukan garis akhir, tapi
perjalanan panjang yang penuh
ketidakpastian.

Setiap hari kamu melangkah,
meski sering tidak tahu berapa lama,
seberapa sakit, dan apakah kamu akan
berhasil.

Aku tidak tahu
berapa banyak rintangan yang akan datang.
Aku tidak tahu
apakah mimpiku terwujud.

Tapi satu hal yang aku tahu:
Aku percaya pada keberanianku.
Aku memilih kesabaran
daripada amarah.
Aku memilih melangkah 
daripada berhenti.

Ketika orang lain berkata,
“Ini bukan tempatmu,”
aku menjawab dalam hati:
“Perjalanan Masih Panjang.”
Ini bukan akhir dari segalanya.

Biarkan Opini Orang Yang Tidak Bermanfaat

Kamu bisa saja sedang berada 
di jalan yang benar,
bekerja keras setiap hari,
tapi tetap saja…
orang akan bicara.
Ada yang menyalahkan, mengkritik,
bahkan menyuruhmu berhenti.

Sedikit demi sedikit,
kamu mulai ragu pada diri sendiri.
Aku ingat satu cerita.

Menonton pertandingan bola,
semua orang memberi komentar…
bahkan kakekku yang tidak paham
bola ikut memberi saran.
Lucunya,
pemain itu tidak mendengarkan siapa pun
kecuali saran bagus dari pelatihnya.
Dan memang seharusnya begitu.

Karena setiap orang menilai dari sudut
pandangnya sendiri.
Apa yang benar bagi mereka,
belum tentu benar untukmu.

Dan Ingat ini:
kamu adalah pemain terbaik dalam 
hidupmu sendiri.
Ambil nasihat yang membangun,
yang menunjukkan kelemahanmu.
Tapi jika itu tidak relevan, lepaskan .

Jawaban hidupmu
tidak ada di mulut orang lain.
Jawabannya ada di dalam dirimu.

Amarah dan Ketenangan

“Pernah nggak kamu merasa hidupmu berat
sejak satu kesalahan di masa lalu?
Setiap hari pikiran itu datang, dan perlahan
menghabiskan tenagamu.

Kita sering marah bukan karena orang lain,
tapi karena kita terus berusaha
membenarkan kesalahan kita sendiri.
Kita kembali ke lingkungan yang sama,
mengulang keputusan yang sama,
dan tanpa sadar… mengulang kesalahan
yang sama.

Padahal, salah itu wajar. Kita manusia.
Justru dari kesalahan itulah kita belajar
hidup dengan lebih baik.

Masalahnya, kita terlalu sibuk
mendengarkan suara orang lain,
sampai lupa mendengarkan suara diri
sendiri.

Akibatnya, muncul salah paham,
pertengkaran, dan amarah.
Coba berhenti sejenak. Diam. Sendiri.

Luangkan waktu untuk dirimu sendiri.
Karena orang yang paling mengenalmu,
yang bisa menilai keputusanmu,
dan menunjukkan jalan yang benar…
sedang menunggumu di depan cermin.

Ketika merenung kita siapkan pengetahuan
tentang perbaikan diri. Tanpa pengetahuan
Kita Akan Sulit Memperbaiki Diri.

Perhatikan para orang yang khusyuk beragama,
mereka menjauh dari hiruk-pikuk
masyarakat dan mengenal diri mereka
selama bertahun-tahun. 

Sementara kita bahkan tidak memberi
beberapa menit untuk mengenal diri sendiri.
"Merenung" melakukan hal ini: memberi
ketenangan batin agar kita menjadi sahabat
terbaik bagi diri sendiri, dan setiap tindakan
pikiran, tubuh, serta ucapan kita berada
dalam kendali.

Alasan ( Excuses )

Jangan Terjebak Alasan
Waktu sekolah, saya suka lomba menggambar.
Tapi setiap lomba, saya selalu mencari tempat 
yang paling nyaman dan tenang.
Sampai suatu hari guru saya berkata:
“Kamu tidak akan selalu mendapat kondisi ideal.
Keluar dari zona nyaman.”

Saat itu saya sadar,
selama ini saya lebih sibuk mengeluh tentang lingkungan,
bukan fokus pada pekerjaan.
Orang sukses itu berbeda. Mereka begitu fokus,
sampai lupa dengan kebisingan di sekitarnya.

Banyak orang berhasil
bukan karena fasilitas lengkap,
tapi karena memaksimalkan apa yang ada.
Kita tidak tahu kesempatan datang kapan,
dan dalam kondisi apa.
Jadi berhenti mencari alasan.
Kuasai kemampuanmu.
Fokus pada pekerjaanmu.
Jangan mengeluh,
jangan menyalahkan siapa pun.
Kesempatan yang kamu miliki hari ini
sudah cukup
untuk mengubah hidupmu

Depresi ( Depression)Jangan Menyerah

Pernah merasa hidup menekan dari 
semua arah?
Kita semua ingin hidup bahagia.
Tapi saat masalah datang bertubi-tubi,
pikiran negatif mulai menguasai kita.

Kita jadi bingung, marah,
dan merasa tidak berdaya.
Jika itu terjadi setiap hari,
itulah yang disebut depresi.

Tapi ingat satu hal:
kalau diri kita saja tidak selamanya 
di dunia ini,
bagaimana mungkin masalah kita 
akan selamanya?
Waktu punya kekuatan untuk
menyembuhkan.
Kita memang tidak bisa menghapus 
masa lalu,
tapi kita bisa menciptakan kebahagiaan
baru.
Pikiran negatif itu seperti beban,
makin dipelihara, makin melemahkan.
Bahkan orang dengan satu kaki
bisa mendaki gunung.
Bukan karena ototnya,
tapi karena harapannya.

Harapan adalah energi hidup.
Kehilangan harapan berarti kehilangan
kekuatan.
Bangkitlah.
Ini bukan tempatmu untuk menyerah.
Gunakan senyum untuk melawan masalah.
Percayalah, alam selalu mendukung usaha
kita.
Hasil mungkin terlambat,
tapi saat datang…
nilainya jauh lebih berharga.

KETERIKATAN EMOSIONAL( ATTACHMENT )

Peduli dan ingin membantu orang yang 
kita sayangi adalah hal yang wajar.
Namun niat baik tidak selalu diterima
dengan cara yang sama oleh orang lain.

Membantu itu penting, tapi bantuan tidak
boleh membuat mereka bergantung.
Seperti belajar naik sepeda, pada waktunya
pegangan harus dilepas agar bisa seimbang
sendiri.

Berikan kepercayaan dan kebebasan,
karena cinta dan keterikatan seharusnya
menguatkan, bukan membatasi.

Dan Kesabaran itu penting terhadap orang
yang kita sayangi, ketika kita merasa lebih
berpengalaman dan ingin menghindarkan
mereka dari masalah, menunjukkan jalan
kepada mereka ketika ditolak janganlah
langsung marah. 
Karena itu yang membuat
berjauhan dengan orang yang kita sayangi 

Menunda Pekerjaan

Prokrastinasi adalah kebiasaan menunda
pekerjaan yang justru membuat tekanan
semakin besar.

Masalahnya bukan pada pikiran kita, tetapi
pada apa yang kita biasakan setiap hari.
Pikiran perlu dimotivasi terlebih dahulu,
karena kebiasaan menunda tidak akan
berhenti tanpa motivasi.
Pikiran hanya mengikuti arahan, dan kitalah
yang menjadi pengendalinya.
Untuk mengatasinya, jangan fokus pada
tujuan yang terlalu jauh, cukup mulai dari
satu langkah kecil.

Satu langkah hari ini bisa membuka 
banyak kemungkinan di masa depan.

Takut

Rasa takut sering kali bukan berasal 
dari situasi itu sendiri, tetapi dari 
cara kita memikirkannya.

Seperti ketika kecil dimasukkan 
ke ruang gelap, yang membuat takut 
bukan ruangan tersebut, melainkan
pikiran yang membayangkan hal-hal
negatif.

Ketika kita berani berpikir tenang dan
melihat kenyataan dengan baik, 
sering kali kita sadar bahwa tidak ada
ancaman nyata di sana.

Dalam kehidupan, menghadapi masalah
dengan pikiran jernih jauh lebih membantu
daripada terus menghindarinya.

Walaupun ada beberapa hal yang lebih
bijaksana kita tinggalkan tapi bukan 
untuk kita takut.

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

APA ITU PTSD? Beranjak ke salah satu gangguan kecemasan yang paling dikenal, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah suatu kondisi yang...