Gangguan Kecemasan - Fobia Spesifik

Saya akui sepenuhnya bahwa ini adalah nama yang agak aneh untuk gangguan kecemasan ini, karena biasanya ketika kita berbicara tentang fobia, kita langsung menyebutnya “fobia” atau menamainya secara spesifik.
 Namun, istilah kelompok resmi untuk gangguan kecemasan ini adalah specific phobia (fobia spesifik), dan itulah yang akan kita bahas dalam bab ini.

Fobia spesifik adalah ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu situasi atau objek tertentu. Misalnya, fobia terhadap ketinggian, hewan, terbang, melihat suntikan (walaupun memang hampir tidak ada yang suka melihatnya), atau melihat darah. Sekitar 5% populasi mengalami bentuk ringan dari gangguan fobia.

Perbedaan antara rasa takut biasa dan fobia adalah ketika seseorang menghindari sumber ketakutannya dengan segala cara hingga mengganggu kehidupannya. Contohnya, ibu saya tidak suka laba-laba. Itu hanya rasa takut biasa. Jika ada laba-laba, ia tetap masuk ke ruangan dan melakukan apa yang perlu dilakukan. Itu berarti hanya ketakutan ringan, bukan fobia. Sedangkan orang dengan fobia mungkin akan berteriak, panik, dan benar-benar menolak masuk ruangan.

Dalam fobia, objek atau situasi hampir selalu langsung memicu rasa takut atau kecemasan. Hal penting yang menjadikan fobia sebagai gangguan mental adalah rasa takut tersebut tidak sebanding dengan bahaya nyata dari objek atau situasi itu, termasuk konteks sosial dan budaya.
Misalnya, saya tinggal di Inggris, di mana jarang ada laba-laba mematikan. Jadi jika seseorang berteriak dan menolak masuk ruangan karena takut mati akibat laba-laba, itu adalah reaksi berlebihan. Tetapi jika hal yang sama terjadi di wilayah Afrika yang memang dikenal memiliki laba-laba berbahaya, maka itu kemungkinan bukan fobia.

Akibatnya, situasi atau objek tersebut dihindari mati-matian atau dijalani dengan kecemasan yang sangat intens. Hidup dalam ketakutan seperti ini dapat menambah tekanan pada kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang.
Untuk diagnosis fobia spesifik, ketakutan atau penghindaran tersebut harus menyebabkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau aspek penting lainnya dalam hidup. Selain itu, kondisi ini harus berlangsung minimal 6 bulan.

Ini juga menimbulkan pertanyaan menarik tentang layanan kesehatan mental: apakah kita membuat orang menderita selama 6 bulan hanya untuk memenuhi kriteria diagnosis?
Secara pribadi, saya rasa tidak demikian, karena ini cara membedakan berbagai kondisi. Namun, pertanyaan ini tetap layak dipikirkan, terutama terkait batasan klinis yang kadang terasa kaku, serta bagaimana sistem layanan publik perlu menyaring siapa saja yang mendapat bantuan.
(Connor Whiteley)

No comments:

Post a Comment

KRITERIA DIAGNOSTIK GENERALIZED ANXIETY DISORDERS

Untuk mendapatkan diagnosis Generalized Anxiety Disorder, seseorang harus mengalami tingkat kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, yang...